Merawat Tradisi, Menjaga Harmoni: Sinergitas TNI-Polri dan Tokoh Lintas Agama dalam Ritualitas Bersih Desa Tarokan

Merawat Tradisi, Menjaga Harmoni: Sinergitas TNI-Polri dan Tokoh Lintas Agama dalam Ritualitas Bersih Desa Tarokan

oplus_0

KEDIRI – Wartajatim.id || Lantunan syahdu ayat-ayat suci Al-Qur’an dan getaran doa yang membubung ke langit malam menyelimuti Balai Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (10/7/2026). Di bawah temaram bulan Suro 1960 Jawa (1448 Hijriah), masyarakat setempat kembali menggelar ritual tahunan yang sarat nilai spiritual mulia: Bersih Desa.

​Desa Tarokan yang bertengger manis di kawasan lereng Gunung Wilis malam itu diselimuti kabut tipis dan hembusan angin pegunungan yang sejuk. Geografis Wilis yang kokoh seolah ikut memayungi jalannya tradisi leluhur ini. Riuh rendah kegembiraan sesaat berganti kekhusyukan yang mendalam saat ratusan warga, aparatur pemerintahan, aparat keamanan, hingga para tokoh lintas agama melebur menjadi satu. Mereka duduk bersila dalam shaf yang sama, merajut harmoni toleransi yang begitu kuat di bawah bayang-bayang kemegahan lereng Gunung Wilis.


​Ritual sakral yang bertujuan menyucikan desa dari marabahaya serta memohon keberkahan ini dihadiri langsung oleh Kapolsek Tarokan yang baru, AKP Priyo Hadistyo, S.H., didampingi Bhabinkamtibmas Aiptu Sunarko. Dari lini pertahanan, hadir Danpos Koramil 0809/05 Grogol Peltu Widodo bersama Babinsa Serda Agung ST. Kehadiran sinergi TNI-Polri ini tidak sekadar mengawal keamanan fisik, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap kearifan lokal masyarakat lereng Wilis yang dikenal teguh menjaga adat.

​Sebagai tuan rumah, Kepala Desa Tarokan, Bapak Supadi, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang setinggi-tingginya. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Bersih Desa bukan sekadar rutinitas adat, melainkan momentum sakral untuk memperkuat tali silaturahmi.

​”Atas nama Pemerintah Desa Tarokan, saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran TNI-Polri, para tokoh lintas agama, tokoh adat, serta seluruh warga. Kehadiran kita bersama di sini adalah bukti nyata dari kerukunan dan gotong royong yang menjadi fondasi kekuatan Desa Tarokan. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kedamaian, dan keberkahan rezeki yang melimpah,” tutur Kades Supadi dengan penuh kehangatan.

​​Kesakralan malam itu kian memuncak saat prosesi doa dimulai. Dipimpin secara Islam oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas sekaligus Pemimpin Majelis Taklim Ibadallah, Gus Ilham Yahya Al-Maliki, gema pelantunan ayat-ayat suci mengalun dengan khusyuk, memecah kesunyian malam di lereng gunung dan memohon keselamatan bagi setiap sudut desa.

​Keindahan toleransi pun terpancar nyata kala pemuka agama Kristen, Hindu, hingga penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa turut menundukkan kepala. Mereka merapalkan doa keselamatan dengan cara masing-masing setelah sesi utama. Di pendopo itu, sekat-sekat perbedaan meleleh, berganti kebersamaan dalam memohon kebaikan wilayah.

​Turut hadir mendampingi Kades Supadi, Ketua BPD Desa Tarokan Ibu Yayuk Arifin beserta seluruh perangkat desa, Kepala Dusun (Kasun), LPMD, P3N, pengurus PKK, hingga jajaran RT dan RW, membaur bersama deretan Tokoh Agama dan Tokoh Adat.


​Di tengah kehangatan tersebut, Kapolsek Tarokan AKP Priyo Hadistyo, S.H., memanfaatkan momen untuk memperkenalkan diri sebagai pejabat baru. Dengan kerendahan hati, ia mengetuk pintu hati warga agar kehadirannya dapat diterima sebagai bagian dari keluarga besar Tarokan.

​”Saya mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat malam ini. Semoga kehadiran kami dapat diterima dengan baik, sehingga kita bisa terus bersinergi dalam menjaga kamtibmas,” ungkap AKP Priyo.

​Ia pun membagikan kesan spiritual pertamanya saat menapakkan kaki di wilayah Tarokan yang eksotis. Baginya, kawasan lereng Gunung Wilis bukan sekadar wilayah tugas administratif biasa, melainkan tanah subur yang dipenuhi daya tarik historis dan spiritual yang sangat kuat.

​”Saya jujur sangat kagum dengan keindahan alam lereng Wilis di Tarokan ini. Di sini banyak sekali peninggalan sejarah, goa-goa alami, serta tempat-tempat sakral. Keasrian alam dan kesakralan budaya di wilayah ini sangat menarik bagi saya. Ini menambah wawasan sekaligus memotivasi saya untuk terus menelusuri serta menghormati sejarah tempat saya mengabdi sekarang,” tuturnya antusias.

​Suasana pendopo sesaat menjadi hening. Nada bicara AKP Priyo yang bergetar penuh ketulusan, tanpa sekat kesombongan jabatan, merasuk ke dalam dada setiap warga. Tatapan matanya seolah memancarkan janji suci untuk tidak hanya bertugas, melainkan mengabdi dan mencintai tanah di bawah kaki Gunung Wilis ini dengan sepenuh jiwa.

​Mendengar ketulusan tersebut, Gus Ilham Yahya Al-Maliki kemudian memberikan wejangan spiritual yang mendalam—sebuah nasihat yang bergaung bak kompas moral di malam Suro.

​”Sebagai pemimpin baru di wilayah lereng Wilis ini, ingatan yang paling sakral untuk dijalankan adalah bahwa seorang pemimpin itu harus senantiasa dekat dengan rakyatnya. Mendengar keluh kesah mereka, mengayomi dengan hati, dan hadir dalam situasi apa pun. Ketika pemimpin dekat dengan rakyatnya, maka ketenteraman dan keberkahan dari Allah SWT akan selalu menaungi wilayah tersebut,” pesan Gus Ilham dengan penuh wibawa.

oplus_0

​Nasihat bijak itu mengingatkan bahwa amanah kepemimpinan bukanlah tentang pangkat di pundak, melainkan tentang kesiapan menyatu dengan denyut nadi dan air mata rakyat. Beberapa warga yang hadir tampak berkaca-kaca, terharu melihat bagaimana sebuah awal tugas dimulai dengan ketundukan hati di hadapan Sang Pencipta dan masyarakat.


​Sebagai penutup, Kapolsek berharap momentum Bersih Desa ini menjadi fondasi awal yang kokoh untuk memupuk hubungan emosional yang positif.

​”Semoga Doa Bersama ini menjadi momen awal yang baik dalam membangun sinergisitas dan silaturahmi yang kuat, baik antara aparat keamanan dengan masyarakat, maupun antar pemuka agama serta tokoh adat. Kebersamaan ini adalah fondasi kokoh untuk menciptakan situasi yang aman dan damai,” pungkasnya.

​Malam semakin larut, kabut Gunung Wilis perlahan turun semakin tebal mendekap Balai Desa, menandai berakhirnya ritual Bersih Desa Tarokan tahun 2026 dengan aman, tertib, dan damai. Namun, esensi dari pembersihan itu baru saja dimulai: sebuah tekad baru untuk menjaga keharmonisan, merawat toleransi, dan melangkah bersama menuju masa depan yang penuh dengan keberkahan langit.(Dk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *