KEDIRI – Wartajatim.id || Senin pagi yang terik (13/7/2026) mendadak berubah menjadi mencekam bagi warga Dusun Gebangkerep Kulon, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Embusan angin kencang dan cuaca panas ekstrem mengubah percikan api kecil dari pembakaran daun tebu kering (daduk) menjadi amukan si jago merah yang mengerikan.
Hanya dalam hitungan menit, lahan tebu siap panen seluas kurang lebih 8 hektar milik H. Ibrahim dan Yuli Harianto berubah menjadi lautan api. Di tengah kepanikan warga yang melihat mata pencaharian mereka dilalap api, secercah harapan datang dari respons cepat para ksatria penyelamat: Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Kediri.
Pukul 09.20 WIB, sebuah panggilan darurat dari seorang warga bernama Gufron masuk ke pos Damkar. Menyadari besarnya potensi bahaya yang mengancam pemukiman sekitar, Tim Damkar Pos Grogol di bawah komando Plt. Kasatpol PP Kabupaten Kediri langsung bergerak tanpa menunda satu detik pun.
Hanya butuh waktu 3 menit bagi tim untuk bersiap dan berangkat, dan tepat pada pukul 09.28 WIB—hebatnya hanya dalam waktu 5 menit perjalanan—armada pemadam sudah tiba di lokasi kejadian. Kecepatan respons ini menjadi bukti nyata profesionalisme dan kesiapsiagaan tinggi Damkar Kabupaten Kediri dalam melindungi warganya.
Medan yang dihadapi 7 personel Damkar di lapangan sama sekali tidak mudah. Api menjalar dengan sangat cepat, meluas, dan memutus akses jalan. Menghadapi situasi kritis tersebut, dua armada tangguh berkapasitas 5.000 liter (AG 8156 EP) dan 4.000 liter (B 9374 LQ) dikerahkan untuk memblokir pergerakan api.
Namun, dedikasi sejati para personel teruji saat armada tidak mampu lagi menembus titik api yang berada jauh di dalam lahan. Tanpa rasa takut, dengan peluh yang bercucuran di bawah terik matahari dan kepungan asap pekat yang menyesakkan dada, para petugas turun langsung melakukan aksi heroik.
Menembus area yang tak terjangkau, mereka melakukan teknik “penggepyokan” dan penyekatan secara tradisional demi memastikan api tidak meluas ke pemukiman warga. Saban pukulan ke tanah dan tiap tetes air yang disemprotkan adalah wujud komitmen mereka: pantang pulang sebelum padam.
Melihat kebakaran lahan tebu yang kembali terulang untuk kesekian kalinya, Plt. Kasatpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, tidak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Di satu sisi ia bangga atas kerja keras anggotanya, namun di sisi lain, hatinya bergetar melihat kerugian besar yang harus ditanggung oleh para petani.
Dengan nada yang tegas namun sarat akan rasa kemanusiaan, Kaleb memberikan pernyataan mendalam langsung dari lokasi kejadian:
”Hari ini kita kembali menyaksikan miliaran rupiah menguap menjadi abu, dan yang lebih menyakitkan, ini semua sebenarnya bisa kita cegah. Kami, petugas Damkar, tidak pernah lelah untuk datang menyelamatkan. Tapi tolong, ketahuilah, setiap kali ada lahan yang terbakar, ada keringat, modal, dan harapan keluarga petani yang ikut hangus di dalamnya.

Saya mengimbau dengan sangat, demi Tuhan, hentikan kebiasaan membakar daduk atau sisa sampah di lahan terbuka saat cuaca ekstrem seperti ini. Jangan biarkan kelalaian sesaat merenggut ketenangan tetangga dan saudara-saudara kita. Tolong, mari kita saling menjaga, karena keselamatan Kediri adalah tanggung jawab hati kita bersama.”
Setelah pertarungan sengit melawan waktu dan api selama hampir 4 jam, tepat pada pukul 13.05 WIB, amukan si jago merah akhirnya berhasil ditundukkan sepenuhnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Meski kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 780.000.000 akibat rusaknya tanaman tebu siap panen, ada satu hal yang paling disyukuri: tidak ada satu pun korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa hebat ini. Keberhasilan ini menorehkan catatan emas atas kinerja positif Bidang Pencegahan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kediri.
Hari ini, 7 personel Damkar Kabupaten Kediri kembali membuktikan bahwa di balik seragam yang basah oleh keringat dan bau asap, ada jiwa-jiwa tangguh yang siap bertaruh nyawa demi kedamaian dan keselamatan masyarakat Kediri. Namun pesan dari sang komandan tetap menggema jelas: pencegahan terbaik berada di tangan masyarakat itu sendiri.(Dk)












