KEDIRI, Wartajatim.id – Ketika sebagian besar peserta upacara berdiri dalam diam, pandangan tertuju pada Sang Merah Putih yang perlahan diturunkan dari tiangnya. Di tengah suasana khidmat itu, seorang polisi berdiri tegap di depan barisan.
Suaranya terdengar tegas. Gerakannya terukur. Tatapannya fokus.
Dialah AKP Priyo Hadistyo, S.H., Kapolsek Tarokan Polres Kediri Kota Polda Jawa Timur yang pada Senin (17/8/2026) sore dipercaya menjadi Komandan Upacara penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Brawijaya, Kota Kediri.
Bagi orang yang melihatnya dari kejauhan, mungkin yang tampak hanyalah seorang perwira polisi yang sedang menjalankan tugas.
Namun bagi AKP Priyo, berdiri di hadapan Sang Merah Putih sore itu bukan sekadar menjalankan perintah kedinasan.
Ada sesuatu yang lebih besar yang ia rasakan: amanah.
Satu Kepercayaan, Satu Tanggung Jawab
Beberapa saat sebelum prosesi dimulai, AKP Priyo harus memastikan dirinya benar-benar siap. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.
Sebab, menjadi Komandan Upacara pada momentum kemerdekaan bukanlah tugas yang menurutnya bisa dijalankan sekadar formalitas.
Ia sadar, setiap aba-aba yang keluar dari suaranya menjadi bagian dari sebuah prosesi yang memiliki makna sejarah bagi bangsa Indonesia.
“Bagi saya, kepercayaan menjadi Komandan Upacara ini merupakan amanah sekaligus kehormatan. Karena yang kita hormati bukan hanya bendera, tetapi juga perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa Indonesia,” kata AKP Priyo.
Kalimat tersebut seolah menggambarkan cara pandangnya terhadap sebuah tugas.
Baginya, ukuran sebuah pengabdian bukan terletak pada seberapa besar tugas yang diberikan, tetapi bagaimana seseorang menjalankan kepercayaan tersebut.
“Amanah sekecil apa pun tetap harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Ketika negara dan institusi memberikan kepercayaan, maka kepercayaan itu harus kita jaga dengan disiplin, dedikasi dan tanggung jawab,” ujarnya.
Dari Barisan Polisi hingga Berdiri di Depan Sang Merah Putih
Kepercayaan menjadi Komandan Upacara itu juga tidak terlepas dari perjalanan AKP Priyo selama menjalankan tugas di kepolisian.
Sebelum dipercaya memimpin Polsek Tarokan, ia pernah mengemban tugas sebagai KBO Satlantas Polres Kediri Kota dan kemudian dipercaya menjadi Kasat Samapta Polres Kediri Kota.
Dari lalu lintas hingga Samapta, berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk cara kerjanya.
Tugas-tugas itu mengajarkannya tentang disiplin, kesiapsiagaan, ketegasan dan pentingnya kerja sama.
Kini, ketika dipercaya menjadi Kapolsek Tarokan, tantangan pengabdiannya semakin dekat dengan masyarakat.
Ia tidak hanya dituntut mampu menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga menghadirkan sosok polisi yang dapat berkomunikasi dan membangun kedekatan dengan masyarakat.
Dan pada sore peringatan kemerdekaan itu, pengalaman tersebut seakan menemukan satu titik pertemuan.
Seorang perwira yang sehari-hari berada di tengah masyarakat berdiri di hadapan Sang Merah Putih untuk memimpin sebuah prosesi yang sarat makna kebangsaan.
Bukan Tentang Siapa yang Berdiri Paling Depan
Bagi AKP Priyo, menjadi Komandan Upacara bukan berarti dirinya memiliki posisi yang lebih tinggi dari peserta lainnya.
Justru sebaliknya.
Posisi tersebut membuatnya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan penghormatan terbaik kepada bangsa dan para pahlawan.
“Menjadi Komandan Upacara bukan tentang siapa yang berdiri paling depan. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan,” tuturnya.
Filosofi itulah yang kemudian menjadi pegangan AKP Priyo.
Menurutnya, dalam kehidupan maupun dalam pengabdian sebagai anggota Polri, seseorang akan selalu menerima amanah dalam bentuk yang berbeda-beda.
Ada yang berbentuk jabatan, tugas, tanggung jawab, bahkan kepercayaan dari masyarakat.
Semuanya harus dijaga.
“Kalau sebuah kepercayaan sudah diberikan, maka tugas kita adalah membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah diberikan kepada kita,” katanya.
Pesan Seorang Komandan untuk Generasi Muda
Dari momentum HUT ke-81 RI tersebut, AKP Priyo juga menitipkan pesan kepada generasi muda.
Menurutnya, perjuangan generasi saat ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata seperti para pahlawan terdahulu.
Perjuangan hari ini dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan, prestasi, kreativitas, kepedulian dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Generasi muda adalah penerus bangsa. Jadikan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk belajar, berkarya dan berprestasi. Gunakan teknologi dan media sosial untuk hal-hal yang positif, jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar, dan tetap jaga persatuan,” pesannya.
Ia berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti ketika bendera Merah Putih kembali disimpan setelah upacara.
Sebab, menurutnya, penghormatan kepada para pahlawan tidak cukup hanya dilakukan dalam sebuah seremoni.
Nilai perjuangan harus diteruskan melalui perilaku sehari-hari.
Disiplin. Jujur. Bertanggung jawab. Menghormati sesama. Menjaga persatuan. Dan yang paling penting, memberikan manfaat bagi orang lain.
Setelah Aba-Aba Terakhir
Prosesi penurunan Bendera Merah Putih akhirnya selesai.
Aba-aba terakhir telah diberikan. Barisan pun perlahan membubarkan diri.
Tugas AKP Priyo sebagai Komandan Upacara sore itu pun berakhir.
Ia kemudian menerima apresiasi dari Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., serta ucapan selamat dari sejumlah rekan yang hadir.
Namun bagi AKP Priyo, apresiasi bukanlah tujuan utama.
Ia justru melihat keberhasilan pelaksanaan upacara sebagai hasil dari kerja sama seluruh pihak.
“Saya berterima kasih atas kepercayaan dan apresiasi yang diberikan. Ini bukan tentang saya pribadi. Ini tentang bagaimana kita bersama-sama memberikan penghormatan terbaik kepada bangsa, negara dan para pahlawan,” ungkapnya.
Sore itu, Sang Merah Putih telah kembali ke tempatnya.
Lapangan Brawijaya perlahan kembali seperti biasa.
Namun bagi AKP Priyo, pengalaman menjadi Komandan Upacara HUT ke-81 RI menyisakan sebuah pesan yang jauh lebih panjang daripada sekadar satu rangkaian seremoni.
Bahwa jabatan adalah kepercayaan, tugas adalah amanah, dan pengabdian adalah tentang seberapa besar seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di balik ketegapan seorang Komandan Upacara, ternyata ada sebuah filosofi sederhana yang ia pegang:
Ketika dipercaya, jangan hanya berdiri untuk dilihat. Berdirilah untuk mempertanggungjawabkan amanah.
Dan bagi AKP Priyo Hadistyo, pengabdian itu tidak berakhir ketika upacara selesai.
Justru setelah aba-aba terakhir diberikan, amanah sebagai pelayan masyarakat kembali menanti untuk dijalankan.(Dk)












