KEDIRI — Wartajatim.id || Umat Muslim di wilayah Kecamatan Gampengrejo menyambut datangnya malam 10 Muharram atau yang akrab dikenal sebagai Dinten Ngasuro dengan penuh kekhusyukan. Peringatan religius sekaligus kultural ini salah satunya digelar di kediaman Bapak Moch. Turkan yang beralamat di Dusun Susuhan, Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, pada Kamis malam Jumat (25/06/2026).
Acara yang dimulai tepat pada pukul 19.00 WIB atau ba’da Isya ini berlangsung sangat istimewa karena mempertemukan jajaran pemerintahan desa, tokoh agama, dan warga lintas batas desa dalam satu majelis doa yang sejuk.
Peringatan Dinten Ngasuro di rumah Moch. Turkan ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Sambirejo, Moh. Maksun, beserta seluruh jajaran perangkat Desa Sambirejo. Tidak hanya itu, sebagai wujud silaturahmi dan kebersamaan antarwilayah, jajaran perangkat Desa Gampeng juga tampak hadir di lokasi acara.
Suasana kebersamaan semakin kental dengan kehadiran para Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Tomas), serta masyarakat sekitar Sambirejo dan Gampeng yang memenuhi area kediaman tuan rumah.
Bapak Moch. Turkan, yang akrab disapa Bayan Turkan, merupakan sosok yang sangat dikenal di lingkungan setempat. Selain aktif menjabat sebagai Bayan di Desa Sambirejo, Kecamatan Gampengrejo, beliau juga dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh adat yang sangat kental akan keyakinan spiritual Jawa atau Kejawen.
Bagi Bayan Turkan, menggelar peringatan Ngasuro bukanlah hal baru. Dari dulu hingga sekarang, beliau selalu rutin dan konsisten menggelar ritual dan doa bersama ini setiap tahunnya. Konsistensi inilah yang membuat kediamannya selalu menjadi jujukan warga dan para tokoh saat malam Asyura tiba.
Sebagai tuan rumah yang memiliki hajat, beliau menyampaikan bahwa esensi dari acara yang ia gelar adalah bentuk syukur mendalam atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT, sekaligus sebagai wadah tolak bala bagi lingkungan sekitar. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata dalam melestarikan sekaligus nguri-nguri budaya Jawa agar nilai-nilai luhurnya tidak tergerus oleh zaman.
”Alhamdulillah, selaku tuan rumah, kami sangat bersyukur atas kehadiran Pak Kades Moh. Maksun, rekan-rekan perangkat dari Sambirejo maupun Desa Gampeng, para kyai, sesepuh, dan seluruh tetangga. Hajat malam Ngasuro ini sudah menjadi rutinitas kami dari dulu untuk niat tabarrukan (mencari berkah) dan kirim doa untuk para leluhur. Selain ibadah, ini adalah ikhtiar kita bersama untuk nguri-nguri budaya Jawa, merawat tradisi kebaikan yang sudah turun-temurun agar tetap lestari di bumi Sambirejo maupun Gampeng. Kami berharap melalui doa bersama malam ini, desa kita semua dijauhkan dari segala bala, diberikan kemakmuran, dan masyarakatnya selalu guyub rukun,” ungkap Bayan Moch. Turkan penuh khidmat.

Kepala Desa Sambirejo, Moh. Maksun, dalam sambutannya turut mengapresiasi inisiatif dan keteguhan Bayan Turkan yang mampu mengawinkan nilai spiritual Islam dengan keluhuran budaya lokal Kejawen. “Momentum Asyura ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi ruang silaturahmi yang kokoh antara umaro (pemerintah), ulama, dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam acara malam tadi, kekentalan adat Jawa sangat terasa dengan dihadirkannya Sesajen Jawa Suro. Bagi masyarakat Kejawen, sesajen ini bukan sekadar pelengkap, melainkan wujud simbolis persembahan, rasa syukur, serta doa permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipanjatkan saat memasuki tahun baru penanggalan Jawa.
Uba rampe (kelengkapan) sesajen yang disiapkan oleh keluarga Bayan Turkan menjadi sarana spiritual mendalam untuk menolak bala sekaligus menjadi momen introspeksi diri (mulat sarira). Berbagai kelengkapan sakral pun ditata rapi di area majelis doa, di antaranya:
Bubur Suro (Jenang Suro): Lambang doa keselamatan dan pengingat akan sejarah.
Ayam Ingkung: Simbol kesucian diri dan kepasrahan hamba kepada Sang Pencipta.
Jajan Pasar & Hasil Bumi: Wujud rasa syukur atas melimpahnya rezeki dan berkah tanah Jawa.
Kembang Setaman: Keharuman doa yang diharapkan membawa kesucian serta keharmonisan hidup.
Di hadapan uba rampe yang sarat makna tersebut, lantunan doa, istighosah, dan selawat dikumandangkan secara bersama-sama oleh para tokoh agama dan warga, memecah keheningan malam Jumat yang penuh berkah. Warga yang hadir tampak larut dalam kekhusyukan, memanjatkan doa bersama demi keselamatan bangsa, keberkahan panen dan usaha warga, serta kedamaian di bumi Panjalu Kediri.

Setelah prosesi doa dan sambutan selesai, acara ditutup dengan ramah tamah yang hangat serta menikmati sajian kembul bujana khas Ngasuro bersama seluruh warga dan perangkat desa. Melalui peringatan Dinten Ngasuro ini, spirit kepedulian sosial, gotong royong, dan sinergi antarperangkat desa serta masyarakat di Kabupaten Kediri diharapkan dapat terus terjaga dan semakin kuat ke depannya.












