KEDIRI, Wartajatim.id – Tugas Pemadam Kebakaran (Damkar) tidak selalu berkaitan dengan kobaran api. Di tengah masyarakat, petugas Damkar juga dituntut mampu memberikan respons terhadap berbagai kondisi yang membutuhkan bantuan penyelamatan secara cepat, tepat, dan aman.
Hal tersebut kembali terlihat saat Tim Damkar Kabupaten Kediri Pos Pare memberikan bantuan kepada seorang warga yang mengalami kesulitan melepaskan anting dari telinga kanan dan kirinya di wilayah RT 001 RW 008, Dusun Buluampal, Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Selasa (8/9/2026).
Warga tersebut diketahui bernama Zahra Mahreva Basuki. Ia mendatangi Pos Damkar Kabupaten Kediri untuk meminta bantuan setelah anting yang dikenakannya tidak dapat dilepas.
Kondisi itu bermula ketika Zahra hendak menjalani pelayanan radiologi. Sebelum pemeriksaan dilakukan, anting yang dikenakannya harus dilepas karena tidak diperbolehkan berada pada tubuh saat proses pemeriksaan radiologi.
Namun, upaya untuk melepas anting tersebut pada sore hari sebelumnya tidak berhasil. Karena khawatir justru menimbulkan luka apabila dipaksakan, Zahra kemudian meminta bantuan kepada petugas Damkar Kabupaten Kediri.
Menerima permintaan tersebut, personel Damkar Kabupaten Kediri Pos Pare melakukan penanganan dengan penuh kehati-hatian. Petugas menggunakan tang pemotong untuk melepaskan anting dari kedua telinga.
Proses dilakukan secara perlahan dengan tetap memperhatikan keselamatan warga. Setelah melalui penanganan petugas, anting akhirnya berhasil dilepas dengan aman dan lancar sesuai prosedur operasional standar (SOP).
Proses evakuasi berlangsung pada pukul 11.09 WIB hingga 11.17 WIB. Tidak terdapat korban luka dalam proses tersebut. Kondisi warga setelah evakuasi dinyatakan aman, dengan catatan luka ringan nihil, luka berat nihil, maupun meninggal dunia nihil.
Plt. Kasatpol PP Kabupaten Kediri Kaleb Untung Satrio Wicaksono menyampaikan bahwa keberadaan Damkar di tengah masyarakat pada dasarnya merupakan bagian dari pelayanan kemanusiaan.
Menurutnya, perkembangan kebutuhan masyarakat membuat petugas Damkar tidak cukup hanya memiliki kemampuan memadamkan api. Personel juga dituntut memiliki kesiapan menghadapi berbagai situasi penyelamatan dan pertolongan yang membutuhkan keterampilan, ketelitian, serta keberanian.
“Damkar memang identik dengan pemadaman kebakaran. Namun dalam pelaksanaan tugas di lapangan, personel dituntut serba bisa karena kebutuhan masyarakat sangat beragam. Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan penyelamatan dan memang dapat kami tangani, kami berupaya hadir dan memberikan pertolongan dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Kaleb.
Ia menegaskan, setiap bentuk pertolongan yang diberikan petugas harus dilakukan secara terukur dan tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan, baik bagi masyarakat maupun personel.
“Yang paling utama adalah keselamatan. Kami ingin masyarakat merasa bahwa Damkar hadir bukan hanya ketika terjadi kebakaran, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi kondisi tertentu yang membutuhkan bantuan dan penanganan,” lanjutnya.
Kaleb juga mengimbau masyarakat agar tidak memaksakan diri ketika menghadapi benda yang sulit dilepas dari tubuh. Menurutnya, tindakan tanpa peralatan dan pengetahuan yang memadai justru dapat menimbulkan risiko cedera.
“Jangan dipaksakan apabila memang sulit dilepas. Mintalah bantuan kepada petugas atau pihak yang memiliki kemampuan dan peralatan yang sesuai. Hal kecil sekalipun bisa menjadi persoalan apabila ditangani dengan cara yang tidak tepat,” pesannya.
Evakuasi anting tersebut menjadi gambaran bahwa ruang lingkup pelayanan Damkar di lapangan dapat bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat.
Petugas dituntut memiliki kesiapsiagaan, kemampuan teknis, ketelitian, sekaligus pendekatan humanis dalam menghadapi setiap laporan. Sebab, setiap permintaan bantuan dari masyarakat memiliki kondisi dan tingkat risiko yang berbeda.
Karena itu, kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan Damkar. Kecepatan merespons harus berjalan seimbang dengan ketepatan dalam mengambil tindakan agar proses penyelamatan tidak menimbulkan risiko baru.
Bagi masyarakat, kehadiran petugas Damkar dalam situasi seperti ini juga menjadi bukti bahwa pelayanan publik tidak selalu hadir dalam bentuk penanganan bencana besar. Terkadang, bantuan yang terlihat sederhana justru sangat berarti bagi warga yang sedang menghadapi persoalan dan membutuhkan pertolongan.
Melalui pelayanan yang cepat, profesional dan humanis, Damkar Kabupaten Kediri terus berupaya hadir di tengah masyarakat dengan prinsip siap membantu, siap menyelamatkan, dan tetap mengutamakan keselamatan.
Peristiwa di Desa Bendo tersebut pun berakhir tanpa adanya korban luka. Anting berhasil dilepas dan warga dapat melanjutkan keperluannya dengan kondisi aman.
(Redaksi Wartajatim.id)












