KEDIRI, Wartajatim.id — Tidak ada sirene yang bisa membawa armada pemadam menembus setiap medan. Tidak semua kobaran api bisa didekati kendaraan besar.
Di Dusun Selang, Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Minggu (4/10/2026), keterbatasan akses justru melahirkan cara sederhana yang sarat gotong royong.
Air sungai diangkut dengan ember. Polisi turun ke medan. Warga ikut bergerak. Petugas Damkar bekerja di garis depan kobaran.
Semuanya berpacu sebelum api menjalar lebih jauh.
Kebakaran melanda rumpun bambu milik Sukarno, warga RT 03/RW 04, pada Minggu siang. Lokasi kebakaran berada di medan yang cukup sulit dijangkau sehingga armada Damkar Kabupaten Kediri Pos Grogol tidak dapat mendekat langsung ke titik api.
Laporan mengenai kebakaran diterima sekitar pukul 13.02 WIB dari Chika.
Tidak berselang lama, tim Damkar Pos Grogol bergerak pada pukul 13.12 WIB dan tiba di sekitar lokasi sekitar pukul 13.40 WIB.
Namun, setibanya di lokasi, persoalan baru terlihat jelas.
Armada sudah datang, tetapi titik api belum bisa dijangkau kendaraan, medan menuju rumpun bambu membuat petugas harus meninggalkan akses kendaraan dan melanjutkan penanganan dengan berjalan kaki.
Di sinilah peran warga menjadi sangat berarti, Sumber air dari sungai yang berada tidak jauh dari lokasi dimanfaatkan. Ember digunakan untuk membawa air secara manual menuju titik kebakaran.
Satu ember diisi.
Dibawa menuju lokasi.
Disiramkan ke titik api.
Kemudian kembali lagi mengambil air.
Begitu seterusnya.
Bukan pekerjaan mudah, tetapi dilakukan bersama-sama.
Petugas Damkar, masyarakat dan jajaran Polsek Tarokan bahu-membahu menangani kebakaran tersebut. Di tengah kondisi medan yang menyulitkan, personel kepolisian bahkan ikut turun membantu pemadaman manual menggunakan air sungai bersama warga dan petugas Damkar.
Padal Piket sekaligus Kanit Binmas Polsek Tarokan Ipda Suyono memimpin keterlibatan personel di lokasi.
Ia didampingi Bhabinkamtibmas Desa Bulusari Aipda Sulistya Budi Wibawa serta Piket Samapta Bripka Fajar Tulus.
Ketiganya tidak sekadar berada di sekitar lokasi untuk melakukan pengamanan. Mereka ikut membantu proses penanganan di medan yang tidak dapat dijangkau kendaraan.
Koordinasi antara polisi, Damkar dan warga dilakukan agar proses pengambilan air, pengangkutan ember hingga penyiraman dapat berlangsung secara teratur.
Warga yang berada di sekitar lokasi ikut mengambil air dari sungai. Sebagian membawa ember menuju sumber api, sementara petugas Damkar melakukan pemadaman sekaligus memastikan titik-titik yang masih menyimpan bara dapat ditangani.
Di tengah kobaran api, tidak ada sekat antara petugas dan warga. Yang ada hanya satu tujuan: api harus berhenti sebelum menjalar.
Rumpun bambu yang terbakar menjadi tantangan tersendiri. Material bambu dan vegetasi di sekitarnya dapat menyimpan panas serta bara, sehingga setelah kobaran utama mengecil, petugas tetap melakukan penyisiran dan penyiraman.
Pemadaman berlangsung sekitar pukul 13.49 WIB hingga 15.30 WIB.
Setelah dilakukan penanganan bersama, api akhirnya berhasil dipadamkan. Kondisi lokasi dinyatakan terkendali.
Sebelum petugas tiba, informasi kebakaran bermula dari kepedulian seorang warga. berawal dari suara berisik, berujung kepulan asap
Arif (48), warga Dusun Selang, saat itu sedang mencari rumput.
Di tengah aktivitasnya, ia mendengar suara berisik dari arah rumpun bambu.
Rasa penasaran membuat Arif melihat ke arah sumber suara. Bukan sekadar suara biasa yang ia temukan, melainkan kepulan asap.
Saat didekati, terlihat rumpun bambu di lahan milik Sukarno telah terbakar.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada pemilik lahan dan pihak terkait hingga akhirnya diterima petugas.
Respons semacam ini menjadi penting dalam kejadian kebakaran. Sebab, api yang masih kecil masih memiliki peluang lebih besar untuk dikendalikan dibandingkan ketika sudah menjalar luas.
Kapolres Kediri Kota AKBP Kresno Wisnu Putranto, S.H., S.I.K., M.Si., melalui Kapolsek Tarokan AKP Priyo Hadistyo, S.H., mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda awal kebakaran.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu api membesar ketika melihat kepulan asap atau mengetahui adanya potensi kebakaran. Segera laporkan kepada perangkat lingkungan maupun petugas agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin. Respons cepat sangat penting untuk mencegah api meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar,” ujar AKP Priyo menyampaikan pesan Kapolres Kediri Kota.
Menurutnya, kondisi medan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam penanganan kebakaran.
“Kondisi medan menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kebakaran. Ketika kendaraan pemadam tidak bisa mendekati titik api, masyarakat bersama petugas harus mencari cara yang aman dan efektif untuk mengendalikan api. Kami mengapresiasi warga yang dengan cepat membantu proses pemadaman,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menggunakan api, terutama di sekitar lahan terbuka dan vegetasi yang mudah terbakar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika menggunakan api, terutama di sekitar lahan terbuka, rumpun bambu, semak maupun vegetasi kering. Jangan meninggalkan sumber api sebelum benar-benar dipastikan padam. Pencegahan jauh lebih baik daripada harus menghadapi kebakaran ketika sudah membesar,” tegasnya.
Menurut AKP Priyo, gotong royong masyarakat sangat membantu dalam situasi darurat. Namun, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama.
“Gotong royong masyarakat sangat penting, tetapi keselamatan tetap harus menjadi yang utama. Jika menemukan kebakaran, segera informasikan kepada petugas dan hindari tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri. Polisi, Damkar dan masyarakat harus saling berkoordinasi agar penanganan berjalan cepat dan aman,” pungkasnya.
Dalam kejadian tersebut, tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka. Data penanganan Damkar mencatat luka ringan nihil, luka berat nihil dan meninggal dunia nihil.
Kerugian material diperkirakan sekitar Rp250 ribu, sedangkan nilai aset yang berhasil diselamatkan diperkirakan sekitar Rp250 ribu.
Terkait penyebab kebakaran, laporan lapangan menyebut adanya dugaan aktivitas pembakaran di sekitar lahan. Namun, informasi tersebut masih berupa keterangan awal dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab pasti. Karena itu, penyebab kebakaran tidak disimpulkan secara sepihak.
Ketika ember menjadi bagian dari perjuangan, Kebakaran di Dusun Selang mungkin terlihat sederhana.
Namun, dari lokasi itu terlihat satu hal yang sering kali menjadi kekuatan terbesar ketika keadaan darurat datang: kepedulian dan gotong royong.
Ketika kendaraan Damkar tidak mampu mendekati titik api, warga tidak memilih menjauh.
Mereka justru turun ke sungai.
Mengisi ember.
Mengangkat air.
Berjalan menuju lokasi.
Polisi ikut turun.
Petugas Damkar bekerja di titik api.
Semua mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak ada teknologi canggih dalam ember yang diangkat warga. Tidak ada mesin besar di tangan mereka. Hanya air sungai, tenaga, keberanian dan kepedulian untuk mencegah api semakin meluas.
Di sisi lain, kehadiran personel Polsek Tarokan—Ipda Suyono, Aipda Sulistya Budi Wibawa dan Bripka Fajar Tulus—menunjukkan bahwa penanganan situasi darurat tidak berhenti pada fungsi pengamanan.
Ketika kondisi membutuhkan, koordinasi dan tindakan bersama menjadi bagian penting untuk membantu masyarakat menghadapi keadaan di lapangan.
Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada besar kecilnya armada pemadam.
Ada faktor lain yang tidak kalah penting: seberapa cepat informasi diterima, seberapa cepat petugas bergerak, bagaimana kondisi medan, dan seberapa kuat masyarakat ikut membantu tanpa mengabaikan keselamatan.
Polsek Tarokan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama saat melakukan aktivitas yang menggunakan api di sekitar kebun, lahan terbuka, rumpun bambu, semak dan vegetasi kering.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan dan memastikan sumber api benar-benar padam setelah aktivitas selesai.
Jika menemukan kepulan asap maupun api, masyarakat diimbau segera melaporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Sekitar pukul 15.30 WIB, api berhasil dikendalikan.
Dari Dusun Selang, sebuah cerita sederhana tertinggal: ketika armada tak bisa menembus medan, manusia masih bisa membuka jalan bagi pertolongan. Dan hari itu, ember berisi air sungai menjadi bagian kecil dari perjuangan besar untuk menghentikan api.
(Dk/Redaksi Wartajatim.id)












