277 Siswa SDN Rembang Belajar Hadapi Kebakaran, Praktik Kebocoran LPG Jadi Perhatian

277 Siswa SDN Rembang Belajar Hadapi Kebakaran, Praktik Kebocoran LPG Jadi Perhatian

KEDIRI, Wartajatim.id – Kebakaran bisa terjadi tanpa diduga. Mengenali potensi bahaya dan memahami langkah penyelamatan diri sejak dini menjadi bekal penting, terutama bagi anak-anak di lingkungan sekolah maupun rumah.

Kesadaran inilah yang diperkenalkan melalui kegiatan Sosialisasi Penanggulangan Kebakaran yang diikuti 277 siswa dan 23 guru SDN Rembang, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Senin (12/10/2026).

Berlangsung di Lapangan Desa Rembang mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, kegiatan yang diselenggarakan SDN Rembang tersebut tidak hanya berisi penyampaian materi. Para peserta juga mendapatkan praktik penanganan kebocoran liquefied petroleum gas (LPG) serta pengenalan pemadaman api menggunakan alat tradisional.

Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan berlangsung lancar. Para peserta mengikuti sosialisasi dengan antusias, mulai dari pengenalan bahaya kebakaran hingga praktik penanganan awal yang menjadi bagian dari edukasi keselamatan.

Penggunaan LPG telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, apabila terjadi kebocoran dan tidak ditangani dengan benar, gas tersebut dapat menimbulkan risiko kebakaran maupun ledakan.

Karena itu, pengenalan penanganan kebocoran LPG menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan tersebut. Melalui edukasi ini, siswa diperkenalkan pada pentingnya mengenali tanda bahaya dan memahami tindakan yang aman ketika menghadapi kondisi darurat.

Anak-anak perlu mengetahui bahwa ketika mencium bau gas menyengat, mereka harus segera menjauh ke tempat aman dan memberi tahu orang dewasa. Mereka tidak boleh menyalakan api, mengoperasikan sakelar listrik di area yang berpotensi mengandung gas, atau mencoba menangani kebocoran sendiri.

Prinsip utamanya adalah tidak panik, tidak mengambil risiko, dan segera mencari pertolongan. Penanganan kondisi berbahaya harus dilakukan oleh orang dewasa yang kompeten atau petugas sesuai prosedur keselamatan.

Selain materi kebocoran LPG, para peserta juga mendapatkan pengenalan praktik pemadaman menggunakan alat tradisional.

Materi ini menjadi sarana untuk mengenalkan upaya penanganan awal kebakaran. Namun, pemadaman harus mempertimbangkan jenis api, tingkat bahaya, ketersediaan peralatan, dan kemampuan orang yang melakukannya.

Bagi siswa sekolah dasar, pemahaman paling penting adalah mengetahui kapan harus menyelamatkan diri. Jika api membesar atau asap mulai membahayakan, mereka harus segera menjauh, mengikuti arahan guru, menuju tempat aman, dan meminta bantuan petugas.

Edukasi keselamatan tidak semata-mata mengajarkan cara menghadapi api, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam tersebut diikuti total 300 peserta, terdiri atas 277 siswa dan 23 guru. Sosialisasi ini menjadi kesempatan untuk mengenalkan pentingnya pencegahan kebakaran kepada warga sekolah sejak usia dini.

Keterlibatan guru juga penting untuk memperkuat pengetahuan siswa setelah kegiatan selesai. Pengenalan jalur evakuasi, kepatuhan terhadap instruksi ketika terjadi keadaan darurat, serta kebiasaan melaporkan potensi bahaya perlu menjadi bagian dari budaya keselamatan di sekolah.

Pengetahuan serupa juga perlu diterapkan di lingkungan keluarga. Penggunaan kompor secara aman, perhatian terhadap kondisi peralatan gas, dan kewaspadaan terhadap sumber api merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.

Sosialisasi penanggulangan kebakaran di SDN Rembang menegaskan pentingnya memperkenalkan pengetahuan keselamatan sejak dini. Anak-anak perlu dibekali kemampuan mengenali bahaya, memahami tindakan pencegahan, dan mengetahui kapan harus meminta pertolongan.

Kegiatan yang berlangsung lancar dengan partisipasi ratusan siswa dan guru ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai bahaya kebakaran di lingkungan sekolah maupun rumah.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan tidak dimulai ketika api sudah membesar. Upaya tersebut perlu dibangun melalui pengetahuan, kebiasaan aman, dan pemahaman mengenai tindakan yang tepat sebelum keadaan darurat terjadi.(Dk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *