KEDIRI, Wartajatim.id — Bengkel sekolah tak lagi sekadar menjadi tempat praktik dan mengerjakan tugas. SMK Pawyatan Daha 3 Kediri membuktikan bahwa keterampilan yang diasah di bangku pendidikan kejuruan dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui Unit Produksi Teknik Pemesinan, sekolah ini mencatat sekitar 100 pesanan dengan omzet yang dilaporkan mencapai Rp10 juta.
Capaian tersebut menjadi gambaran bagaimana pembelajaran vokasi berpeluang berkembang melampaui ruang kelas dan bengkel praktik. Keterampilan siswa tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kompetensi pembelajaran, tetapi juga diperkenalkan pada kebutuhan konsumen dan proses produksi yang memiliki nilai jual.
Unit Produksi Teknik Pemesinan SMK Pawyatan Daha 3 Kediri mengembangkan beragam produk, mulai dari suku cadang dan aksesori sepeda motor, produk pengelasan, hingga pengerjaan logam berbasis teknologi cutting laser. Produk dan layanan tersebut menyasar konsumen otomotif, komunitas pencinta modifikasi kendaraan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemasarannya telah menjangkau wilayah Karesidenan Kediri. Capaian sekitar 100 pesanan itu menjadi modal awal bagi sekolah untuk memperkuat kegiatan produksi, meningkatkan kualitas pengerjaan, dan memperluas jaringan pelanggan.
Kepala SMK Pawyatan Daha 3 Kediri, Erik Sumarsono, S.Kom., M.M., menyampaikan keterangannya saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (12/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, pengembangan unit produksi menjadi salah satu hal penting dalam upaya menghubungkan kompetensi kejuruan dengan kebutuhan dunia usaha.
Bagi sekolah, unit produksi bukan semata-mata sarana menghasilkan barang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi siswa untuk memahami bahwa keterampilan teknis harus disertai kreativitas, ketelitian, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pengembangan Unit Produksi Teknik Pemesinan dilakukan dengan melihat peluang kebutuhan konsumen, khususnya di bidang otomotif dan pengerjaan logam.
Suku cadang serta aksesori sepeda motor menjadi salah satu produk yang memiliki potensi pasar. Kebutuhan terhadap komponen pendukung kendaraan dan aksesori modifikasi memberikan ruang bagi pengembangan produk yang mengandalkan ketelitian, kreativitas, serta keterampilan pemesinan.
Sementara itu, produk pengelasan dan layanan cutting laser membuka peluang pengerjaan komponen logam sesuai spesifikasi pesanan. Layanan tersebut berpotensi dimanfaatkan pelaku UMKM maupun konsumen yang membutuhkan komponen tertentu untuk mendukung kegiatan usaha mereka.
Namun, menghasilkan produk yang dapat diterima pasar bukan perkara sederhana. Setiap pekerjaan membutuhkan perencanaan, ketepatan ukuran, pemilihan bahan, kualitas pengerjaan, serta penyelesaian sesuai kesepakatan dengan pelanggan.
Aspek tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman belajar siswa. Mereka tidak hanya berlatih mengoperasikan peralatan, tetapi juga diperkenalkan pada standar kerja dan tanggung jawab terhadap hasil produksi.
Dengan demikian, kegiatan unit produksi memberikan gambaran lebih nyata mengenai proses kerja yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia industri atau merintis usaha secara mandiri.
Untuk mendukung kegiatan produksi, Unit Produksi Teknik Pemesinan SMK Pawyatan Daha 3 Kediri menjalin kerja sama dengan Bengkel Pemesinan Bholbol Manufacture.
Kemitraan ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan pembelajaran di sekolah dengan praktik dunia usaha. Melalui kegiatan produksi dan kerja sama tersebut, siswa berkesempatan memperluas pemahaman mengenai pengerjaan produk, penerapan keterampilan pemesinan, serta pentingnya menjaga kualitas hasil kerja.
Dalam proses produksi, kemampuan mengoperasikan mesin hanyalah salah satu bagian dari kompetensi yang diperlukan. Pekerjaan juga membutuhkan perencanaan, ketelitian pengukuran, pemilihan bahan, pengendalian mutu, dan pengelolaan waktu.
Pengalaman semacam ini penting untuk membangun kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. Mereka diharapkan tidak hanya memahami cara membuat produk, tetapi juga mengerti tanggung jawab yang menyertai proses pengerjaan hingga barang siap diserahkan kepada pelanggan.
Kolaborasi dengan mitra usaha juga membuka peluang bagi sekolah untuk terus menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan lapangan. Dengan begitu, kompetensi yang diperoleh siswa diharapkan semakin relevan untuk memasuki dunia industri maupun mengembangkan usaha sendiri.
Erik Sumarsono menempatkan pengembangan unit produksi sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kompetensi sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan peserta didik.
Menurut arah pengembangan tersebut, keterampilan yang dipelajari siswa tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menyelesaikan tugas praktik. Keterampilan itu perlu diasah agar mampu menghasilkan karya yang bermanfaat, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan memiliki nilai ekonomi.
“Melalui unit produksi ini, kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori dan praktik di sekolah, tetapi juga memahami bagaimana keterampilan yang mereka miliki dapat menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat. Mereka perlu mengenal proses produksi, memahami kebutuhan pasar, serta menyadari pentingnya kualitas dan tanggung jawab dalam bekerja,” ujar Erik.
Ia menilai, pengalaman menghadapi proses produksi dapat membantu siswa memahami hubungan antara kemampuan teknis dan kebutuhan dunia usaha. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mempersiapkan diri memasuki industri maupun mengembangkan peluang usaha setelah lulus.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan produksi diharapkan melatih kedisiplinan, kerja sama, ketelitian, dan kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai spesifikasi yang dibutuhkan pelanggan.
Keterlibatan siswa dalam kegiatan produktif juga dapat memberikan pengalaman mengenai pengelolaan pekerjaan dan nilai ekonomi sebuah produk. Apabila terdapat skema insentif atau pembagian hasil, pelaksanaannya perlu dilakukan secara transparan, sesuai kontribusi, serta memperhatikan keselamatan dan tujuan pendidikan.
Dengan pendekatan tersebut, unit produksi diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan kompetensi kejuruan dengan pengalaman kewirausahaan secara bertanggung jawab.

Bagi Erik, pendidikan kejuruan perlu membekali siswa dengan keterampilan sekaligus karakter yang kuat. Generasi muda diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk berinovasi, melihat peluang, dan menciptakan karya.
“Untuk seluruh anak didik, khususnya generasi muda siswa SMK, jangan pernah merasa rendah diri dengan keterampilan yang kalian pelajari. Dunia membutuhkan anak-anak muda yang terampil, kreatif, jujur, disiplin, dan berani menciptakan sesuatu. Jadikan setiap praktik sebagai kesempatan untuk belajar, setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi, dan setiap karya sebagai bukti bahwa kalian terus berkembang,” pesannya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan membutuhkan proses, ketekunan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. Karena itu, siswa didorong agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan selama belajar maupun mengerjakan sebuah produk.
“Jangan takut memulai dari hal kecil dan jangan mudah menyerah ketika hasilnya belum sesuai harapan. Teruslah belajar, jaga sikap, hormati guru dan orang tua, serta manfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemampuan. Kami ingin anak-anak SMK menjadi generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan kejuruan bukan semata-mata tentang kemampuan menggunakan alat atau menyelesaikan tugas praktik. Pendidikan vokasi juga menjadi ruang pembentukan karakter, tanggung jawab, kreativitas, dan kemandirian.
Keterampilan yang diasah sejak di bangku sekolah dapat menjadi modal berharga apabila terus dikembangkan dengan disiplin, kejujuran, dan kemauan untuk belajar dari pengalaman.
Catatan sekitar 100 pesanan dengan omzet yang dilaporkan mencapai Rp10 juta menjadi pijakan bagi Unit Produksi Teknik Pemesinan SMK Pawyatan Daha 3 Kediri untuk memperkuat pengembangan produk dan memperluas jaringan pelanggan.
Meski demikian, omzet tidak dapat disamakan dengan keuntungan bersih. Keberlanjutan unit produksi tetap membutuhkan pencatatan yang tertib, mulai dari biaya bahan baku, operasional, perawatan peralatan, hingga komponen biaya lainnya.
Pengelolaan tersebut diperlukan agar perkembangan kegiatan produksi dapat dievaluasi secara objektif, sekaligus membantu sekolah melihat peluang peningkatan efisiensi dan kualitas layanan.
Ke depan, pengembangan pasar dapat dilakukan melalui penguatan jaringan dengan bengkel otomotif, komunitas pencinta kendaraan, UMKM, dan pelaku usaha yang membutuhkan produk berbahan logam.
Promosi digital juga berpotensi dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas. Katalog yang memuat foto, fungsi, spesifikasi, pilihan ukuran, serta informasi pemesanan dapat membantu calon pelanggan memahami produk dan layanan yang ditawarkan.
Namun, peningkatan jumlah pesanan perlu diimbangi dengan kemampuan produksi, ketersediaan bahan, pengawasan kualitas, dan pengelolaan waktu yang terencana. Kepercayaan pelanggan tidak hanya dibangun melalui harga, tetapi juga melalui kualitas produk, ketepatan pengerjaan, dan pelayanan yang konsisten.
Seluruh pengembangan tersebut tetap harus berjalan seiring dengan fungsi utama sekolah sebagai lembaga pendidikan. Unit produksi bukan hanya dituntut menghasilkan penerimaan ekonomi, melainkan juga memberikan pengalaman belajar yang aman, terarah, dan bermanfaat bagi siswa.
Kiprah Unit Produksi Teknik Pemesinan SMK Pawyatan Daha 3 Kediri menunjukkan peluang pendidikan vokasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus memperkenalkan siswa pada dunia usaha.
Capaian sekitar 100 pesanan dengan omzet yang dilaporkan mencapai Rp10 juta menjadi titik awal untuk terus meningkatkan kualitas, memperkuat kemitraan, dan memperluas pemasaran. Pada saat yang sama, pengalaman produksi memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami bahwa keterampilan teknis dapat menjadi bekal menghadapi tantangan masa depan.
Keberhasilan unit produksi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah pesanan dan nilai omzet. Peningkatan kompetensi, terbentuknya karakter kerja, tumbuhnya kreativitas, serta kesiapan siswa menghadapi dunia industri dan kewirausahaan juga menjadi bagian penting dari hasil yang ingin dicapai.
Dari bengkel praktik menuju pasar, SMK Pawyatan Daha 3 Kediri memiliki peluang untuk terus mengembangkan unit produksinya sebagai ruang pembelajaran produktif. Harapannya, siswa tidak hanya lulus dengan bekal keterampilan, tetapi juga memiliki keberanian untuk berkarya, kemampuan melihat peluang, dan semangat membangun kemandirian.
Redaksi Wartajatim.id — Mengangkat karya, menguatkan potensi, dan menghadirkan cerita pendidikan yang berdampak bagi masyarakat.












