KEDIRI, Wartajatim.id – Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia bersama Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri melakukan kunjungan kerja ke sejumlah perusahaan pengolahan kayu di Kabupaten Kediri, Sabtu (24/10/2026). Kunjungan ini menjadi momentum untuk melihat kondisi perusahaan secara langsung, mulai dari kepatuhan administrasi dan perizinan, keberlangsungan produksi, tantangan pasar, hingga kesiapan tenaga kerja dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Rombongan mengunjungi PT Globalindo Furniture yang berlokasi di Jalan Kediri–Kertosono, Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, serta PT Wono Jati Wijoyo di Jalan Mataram Nomor 1, Kediri. Kegiatan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, dengan didampingi jajaran Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri.

Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Sugeng Hari Suseno, menilai kondisi perusahaan yang dikunjungi secara umum masih berjalan normal. Dari aspek administrasi dan perizinan, perusahaan dinilai telah memenuhi ketentuan yang berlaku. Sementara itu, kondisi operasional dan kegiatan produksi juga masih berada pada tingkat normal.
Meski demikian, perusahaan tetap perlu memperhatikan masa berlaku dokumen dan melakukan perpanjangan perizinan sesuai ketentuan sebagai bagian dari tertib administrasi.
“Pengecekan ini salah satunya berkaitan dengan masalah perizinan yang harus diperpanjang. Hal tersebut merupakan bagian dari tertib administrasi yang harus dipatuhi oleh perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Sugeng.
Menurutnya, kepatuhan administrasi menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung kelancaran kegiatan usaha. Perusahaan diharapkan memastikan kelengkapan dokumen dan perizinannya agar kegiatan operasional dapat berjalan sesuai regulasi.

Di balik kegiatan produksi yang masih berjalan normal, para pelaku usaha turut menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi industri furniture berbahan dasar kayu.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Kementerian Ketenagakerjaan RI yang didampingi jajaran Disnaker Kabupaten Kediri menerima masukan dari pemilik pabrik mengenai kenaikan harga bahan baku, penjualan yang masih lesu di pasaran, serta persaingan usaha yang semakin ketat.
Persaingan tersebut tidak hanya terjadi antarpelaku usaha dalam negeri, tetapi juga dengan perusahaan dari luar negeri yang bergerak di bidang furniture berbahan kayu.
Kenaikan biaya bahan baku di tengah penjualan yang belum optimal menjadi tantangan bagi perusahaan dalam menjaga efisiensi, mempertahankan kualitas produk, serta bersaing dari sisi harga. Situasi tersebut menuntut pelaku usaha untuk terus menyesuaikan strategi produksi dan pemasaran dengan perkembangan pasar.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Sugeng berharap kondisi pasar segera membaik sehingga memberikan angin segar bagi pemilik usaha. Perbaikan pasar diharapkan dapat mendukung peningkatan penjualan, menjaga kelancaran produksi, serta membantu perusahaan mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Keberlangsungan perusahaan juga memiliki kaitan erat dengan nasib tenaga kerja. Ketika kegiatan usaha dapat berjalan dengan baik, perusahaan diharapkan mampu menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan kesempatan kerja bagi masyarakat Kabupaten Kediri.
Persoalan penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu isu penting dalam pembahasan mengenai hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Ketersediaan lowongan pekerjaan perlu diimbangi dengan kesiapan kompetensi calon tenaga kerja agar kesempatan yang dibuka perusahaan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Kediri tercatat sebesar 4,71 persen, sedangkan Kota Kediri sebesar 3,76 persen.
Di tengah tantangan ketenagakerjaan tersebut, Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan RI, Sugeng Hari Suseno, menekankan pentingnya mempersiapkan lulusan SMA, SMK, maupun perguruan tinggi agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Menurutnya, penyerapan tenaga kerja tidak cukup hanya mengandalkan tersedianya lowongan pekerjaan. Kesesuaian keterampilan lulusan dengan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan juga menjadi faktor penting agar kebutuhan tenaga kerja dapat terpenuhi.
“Ke depan, kita harapkan kompetensi lulusan dunia pendidikan mengikuti standar atau kompetensi yang sedang dibutuhkan perusahaan. Penyerapan dan penempatan tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan,” jelas Sugeng.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan penyiapan tenaga kerja perlu diarahkan agar dunia pendidikan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan yang relevan dengan pekerjaan yang tersedia.
“Kalau dulu perusahaan yang banyak mengikuti kompetensi dari hasil kelulusan, ke depan kita harapkan bisa menyiapkan lulusan sekolah agar mampu mengikuti apa yang sedang dibutuhkan dunia kerja saat itu. Jadi, kita harapkan tenaga kerja di Kediri bisa terserap oleh lowongan kerja yang memang sedang dibutuhkan perusahaan,” lanjutnya.

Penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Dengan demikian, lulusan baru memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja, sementara perusahaan dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya.
Sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha diperlukan agar lulusan yang dihasilkan memiliki keterampilan relevan serta mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Kunjungan kerja tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan industri pengolahan kayu berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari kepatuhan administrasi, biaya bahan baku, kondisi pasar, persaingan usaha, hingga kesiapan sumber daya manusia yang kompeten.
Sugeng berharap kondisi perusahaan di Kabupaten Kediri ke depan semakin baik, baik dari aspek administrasi, operasional, maupun perkembangan pasar. Membaiknya kondisi pasar diharapkan dapat mendorong penjualan dan membantu perusahaan menjaga kelancaran roda produksi.
Di sisi lain, penyelarasan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri diharapkan mampu meningkatkan peluang penyerapan tenaga kerja lokal. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan operasional, sementara masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan berdasarkan keterampilan yang dimiliki.
Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan, industri pengolahan kayu di Kabupaten Kediri diharapkan mampu mempertahankan keberlangsungan usahanya sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan industri tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan mempertahankan produksi dan bersaing di pasar, tetapi juga oleh kemampuannya menciptakan kesempatan kerja yang sesuai dengan kompetensi masyarakat. Keselarasan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia usaha diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kediri.(Dk)












