Menyibak Kesakralan Suro di Desa Janti: Ritual Suci di Petilasan Dewi Sekartaji Kediri

Menyibak Kesakralan Suro di Desa Janti: Ritual Suci di Petilasan Dewi Sekartaji Kediri

KEDIRI – Wartajatim.id || Suasana khidmat dan sarat nilai spiritual menyelimuti Area Petilasan Dewi Sekartaji, Punden Sakral Desa Janti, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Ratusan warga bersama tokoh masyarakat berkumpul untuk menggelar ritual tahunan Tasyakuran Bulan Suro pada Minggu (5/7/2026) sore. Acara yang dimulai sekira pukul 15.00 WIB ini berlangsung sakral sebagai wujud nyata komitmen warga dalam nguri-nguri (melestarikan) adat dan kebudayaan Jawa.

​Acara adat ini dipimpin langsung oleh Kepala Desa Janti, Ir. H. Muryadi. Kehadiran perwakilan Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Wates,dari Polsek Wates,Koramil 0809/10 Wates serta Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Wates menambah kehangatan dan kebersamaan di tengah ritual spiritual ini.


​Di sela-sela prosesi ritual, Kepala Desa Janti, Ir. H. Muryadi, memaparkan nilai historis mendalam dari tempat pelaksanaan acara tersebut. Menurutnya, Petilasan Dewi Sekartaji bukan sekadar tempat keramat biasa, melainkan salah satu situs budaya peninggalan leluhur era Kerajaan Kediri yang wajib dirawat.

​Dalam kesempatan ini, Ir. H. Muryadi juga memperkenalkan Situs Petilasan Dewi Sekartaji secara mendalam kepada masyarakat luas agar lebih dikenal sebagai destinasi cagar budaya yang potensial.

​”Secara administratif, Petilasan Dewi Sekartaji ini berlokasi di Dusun Grojogan, Desa Janti, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Situs bersejarah yang diyakini sebagai tempat persinggahan Galuh Candra Kirana atau Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri ini sebenarnya sangat mudah dijangkau. Jaraknya sekitar 25 kilometer ke arah tenggara dari pusat Kota Kediri dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit berkendara,” jelas Ir. H. Muryadi di hadapan para hadirin.

​Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa selama periode kepemimpinannya sebagai Kepala Desa Janti, agenda Tasyakuran Suro ini sengaja dikukuhkan menjadi agenda rutin tahunan yang wajib digelar secara besar dan sakral.

​”Selama periode kepemimpinan saya, acara tasyakuran Suro di petilasan ini rutin diadakan setiap tahun tanpa putus. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kami, sekaligus wujud bakti kepada cikal bakal leluhur yang telah mbabat (membuka daerah) Desa Janti pertama kalinya,” tegasnya.


​Sejarah dan kesakralan situs ini pun diamini oleh cerita turun-temurun dari warga setempat. Masyarakat Janti sangat menyadari bahwa Kabupaten Kediri terkenal dengan Kerajaan Kadiri atau Kerajaan Panjalu, salah satu kerajaan tertua di Indonesia. Kekayaan sejarah tersebut menyisakan sejuta peninggalan berupa prasasti, candi, hingga petilasan yang tersebar di wilayah Kediri, termasuk di Desa Janti. Warga menilai, peninggalan ini sangat potensial dijadikan sarana pariwisata guna mengenalkan pelestarian cagar budaya kepada masyarakat luas, sekaligus memutus minimnya pengetahuan dan pengembangan cagar budaya yang selama ini membuat banyak situs tersembunyi.

Oplus_131072

​Berdasarkan penuturan warga setempat, Situs Petilasan Dewi Sekartaji di Dusun Grojogan ini diyakini merupakan salah satu tempat singgah atau persinggahan purba dari Dewi Sekartaji bersama kekasihnya, Raden Panji Asmoro Bangun. Hubungan erat dengan kisah Panji inilah yang melahirkan berbagai pandangan mitos yang melekat kuat di benak masyarakat Desa Janti.

​Di area petilasan yang sakral ini, terdapat dua pohon besar yang diselimuti cerita mistis. Konon menurut kepercayaan warga secara turun-temurun, bagi mereka yang belum menikah sangat dilarang untuk mendekati dua pohon besar tersebut. Warga meyakini bahwa siapa saja yang melanggar pantangan itu akan mengalami kesulitan atau seret dalam mendapatkan jodoh.

​Kendati memiliki mitos yang cukup membuat bulu kuduk berdiri bagi kaum lajang, tidak sedikit pula masyarakat luar daerah maupun warga setempat yang meyakini sisi positif dari situs ini. Petilasan Dewi Sekartaji dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, berkah, serta kemudahan dalam menjalani hajat hidup bagi mereka yang berniat baik dan tulus merawatnya.


​Menutup rangkaian acara, Ir. H. Muryadi menyampaikan kesan mendalam atas antusiasme yang luar biasa dari seluruh elemen yang hadir. Beliau mengaku sangat terharu melihat semangat gotong royong warga yang bahu-membahu menyukseskan acara adat ini.

​”Kesan saya pada Suro tahun ini sangat luar biasa. Jiwa guyub rukun warga Desa Janti benar-benar terlihat nyata. Pesan saya untuk seluruh masyarakat, mari kita jaga terus kerukunan ini, dan jangan pernah lelah untuk merawat serta mencintai kebudayaan leluhur kita sendiri. Kebersamaan hari ini adalah modal utama kita untuk membangun Desa Janti yang lebih maju dan berkah,” tutur Kades Janti.

​Tak lupa, beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan semua pihak yang terlibat.

​”Atas nama Pemerintah Desa Janti dan seluruh warga, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada perwakilan Forkopimcam Wates, rekan-rekan dari Paguyuban Kepala Desa se-Kecamatan Wates, para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Dusun Grojogan dan Desa Janti. Terima kasih atas sumbangsih tenaga, pikiran, dan kehadirannya sehingga Tasyakuran Bulan Suro 2026 ini dapat berjalan dengan sangat sakral, tertib, dan sukses tanpa halangan suatu apa pun,” pungkasnya.


​Sebagai bagian utama dari tasyakuran, beberapa tumpeng hasil bumi (gunungan) yang telah dipersiapkan warga dikepung dan didoakan bersama. Tradisi pembagian tumpeng yang menjadi simbol berkah bumi berlangsung tertib namun meriah di akhir acara. Warga percaya, mengonsumsi makanan yang telah didoakan di punden sakral membawa ketenteraman dan kemakmuran bagi keluarga mereka selama setahun ke depan.

​Melalui sinergi antara pemerintah desa, Forkopimcam, paguyuban kepala desa, dan seluruh elemen masyarakat, Tasyakuran Suro 2026 di Desa Janti sukses menegaskan identitas Kediri yang kaya akan nilai sejarah, spiritualitas, dan kegotongroyongan.(Dk)

Editor: Redaksi Wartajatim.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *