KEDIRI – Wartajatim.id || Anak adalah peniru ulung. Mereka tidak hanya belajar dari nasihat yang disampaikan orang dewasa, tetapi juga dari apa yang dilihat, didengar dan dilakukan oleh orang-orang terdekat dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan Parenting Orang Tua Murid SDN Sukorejo 1 Ngasem dengan tema “Anakku Peniru Ulung”, yang mengangkat pentingnya urgensi keteladanan orang tua dalam pendidikan anak. Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Muhammad Hatta sebagai pemateri.
Kegiatan parenting yang digelar Sabtu, 22 Agustus 2026, berlangsung di halaman SDN Sukorejo 1 Ngasem dan diikuti para orang tua murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi sekolah, orang tua dan pemateri untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan karakter anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.
Suasana kegiatan tampak hangat dan penuh perhatian. Para orang tua murid duduk mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat. Sementara itu, Ustadz Muhammad Hatta tidak hanya menyampaikan materi dari depan peserta, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan para orang tua.
Dalam kegiatan, Ustadz Muhammad Hatta terlihat mendekat dan berdialog langsung dengan peserta yang duduk di halaman sekolah. Cara penyampaian yang dekat dengan peserta tersebut membuat suasana parenting terasa lebih komunikatif dan tidak kaku.
Interaksi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan parenting bukan sekadar forum ceramah atau penyampaian teori, melainkan menjadi ruang dialog untuk mengajak orang tua melihat kembali peran mereka dalam proses tumbuh kembang anak.
Di hadapan orang tua murid kelas 1 sampai kelas 6, Ustadz Muhammad Hatta mengajak peserta memahami bahwa anak belajar terutama melalui proses mengamati. Apa yang dilakukan orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pembelajaran yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat.
Cara orang tua berbicara, bersikap, menghargai orang lain, menyelesaikan persoalan, menjalankan tanggung jawab hingga membangun kebiasaan sehari-hari, secara tidak langsung direkam oleh anak.
Karena itu, memberikan nasihat saja tidak cukup. Anak membutuhkan contoh nyata agar nilai-nilai kebaikan yang disampaikan orang tua dapat benar-benar dipahami dan menjadi kebiasaan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan dengan tema “Anakku Peniru Ulung”. Anak dapat meniru apa yang mereka lihat setiap hari, termasuk perilaku yang terkadang tidak disadari oleh orang dewasa.
Jika orang tua membiasakan berbicara dengan santun, anak akan belajar tentang kesantunan. Ketika orang tua menunjukkan kedisiplinan, anak belajar tentang tanggung jawab. Begitu pula ketika orang tua mampu meminta maaf, menghargai orang lain dan menyelesaikan masalah dengan bijaksana, anak mendapatkan contoh nyata tentang bagaimana bersikap dalam kehidupan.
Dalam konteks tersebut, keluarga memiliki posisi yang sangat penting. Rumah menjadi tempat pertama bagi anak mengenal nilai, norma, kebiasaan dan perilaku sebelum mereka mendapatkan berbagai pembelajaran secara lebih luas di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Pesan itu mendapat penguatan dari Kepala SDN Sukorejo 1 Ngasem, Titik Kurniawati, M.Pd. Menurutnya, pendidikan anak membutuhkan sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga.
Orang tua tidak dapat menyerahkan sepenuhnya proses pembentukan karakter kepada sekolah. Sebaliknya, sekolah dan keluarga harus berjalan bersama agar pendidikan yang diterima anak memiliki kesinambungan.
Dalam keterangannya, Titik menegaskan pentingnya menjadikan keluarga sebagai fondasi utama dalam pendidikan anak.
“Madrasah pertama adalah rumah, pendidikan pertama dimulai dari sekolah,” ujar Titik Kurniawati.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan anak sejatinya berlangsung secara berkesinambungan. Sekolah memberikan pembelajaran, bimbingan dan penguatan, sementara keluarga menjadi tempat anak mendapatkan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum anak memahami berbagai teori dan materi pembelajaran di sekolah, mereka telah lebih dahulu mengenal perilaku dari lingkungan terdekatnya. Karena itu, suasana dan kebiasaan yang dibangun di rumah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karakter anak.
Lebih jauh, Titik menekankan bahwa keteladanan tidak cukup hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata. Orang dewasa harus terlebih dahulu memberikan contoh melalui perilaku nyata.
“Memberikan keteladanan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan di mana saja,” tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan materi yang disampaikan dalam kegiatan parenting. Orang tua diajak menyadari bahwa setiap tindakan mereka dapat menjadi contoh bagi anak.
Bahkan, hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter. Mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menghargai anggota keluarga, menepati janji serta menjalankan tanggung jawab merupakan bentuk pendidikan yang dapat dilihat dan ditiru anak.
Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut juga memperlihatkan keterlibatan aktif para orang tua murid. Mereka mengikuti penyampaian materi dengan penuh perhatian, sementara pemateri membangun komunikasi langsung dengan peserta.
Kedekatan antara pemateri dan peserta menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Ustadz Muhammad Hatta tampak tidak menjaga jarak dengan para orang tua. Ia mendatangi peserta, berinteraksi dan menyampaikan pesan secara langsung, sehingga materi parenting dapat diterima dalam suasana yang lebih akrab dan komunikatif.
Forum tersebut sekaligus menjadi momentum bagi para orang tua dari kelas 1 hingga kelas 6 untuk melakukan refleksi bersama. Setiap orang tua diajak bertanya kepada diri sendiri: contoh seperti apa yang selama ini telah diberikan kepada anak di rumah?
Sebab, anak bukan hanya mendengar apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga memperhatikan bagaimana orang tua menjalani kehidupan.
Ketika orang tua meminta anak disiplin, sementara dirinya sendiri tidak memberikan contoh kedisiplinan, pesan tersebut dapat kehilangan kekuatannya. Demikian pula ketika orang tua mengajarkan kesopanan, tetapi anak justru menyaksikan perilaku yang bertolak belakang dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itulah, keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak.
Dalam konteks inilah kegiatan parenting SDN Sukorejo 1 Ngasem memiliki arti penting. Forum tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan penyampaian materi kepada orang tua, tetapi juga menjadi momentum untuk menyatukan langkah antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.
Sekolah memiliki peran dalam memberikan pendidikan, membimbing dan mengembangkan potensi anak. Namun, pembentukan karakter membutuhkan proses yang lebih panjang karena berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika anak berada bersama keluarga.
Titik berharap pesan yang disampaikan dalam kegiatan parenting tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan secara nyata oleh para orang tua.
Menurutnya, pendidikan karakter membutuhkan proses, kesabaran dan konsistensi. Anak perlu mendapatkan contoh yang baik secara berulang sehingga nilai-nilai positif tersebut perlahan tumbuh menjadi kebiasaan dan bagian dari kepribadian mereka.
Orang tua juga diharapkan membangun komunikasi yang baik dengan anak, memberikan pendampingan serta menciptakan suasana keluarga yang mendukung proses tumbuh kembang mereka.
Tema “Anakku Peniru Ulung” pada akhirnya menjadi sebuah pengingat bahwa pendidikan karakter berlangsung setiap saat.
Anak belajar ketika melihat orang tuanya bersikap. Anak belajar ketika mendengar bagaimana orang dewasa berbicara. Anak juga belajar ketika menyaksikan bagaimana sebuah persoalan diselesaikan.
Karena itu, keteladanan tidak hanya diperlukan di rumah, tetapi juga di sekolah dan lingkungan masyarakat.
Kegiatan parenting di halaman SDN Sukorejo 1 Ngasem tersebut menjadi pengingat bahwa membentuk generasi berkarakter bukan semata-mata dengan memperbanyak nasihat, melainkan dengan menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Madrasah pertama adalah rumah, pendidikan pertama dimulai dari sekolah. Memberikan keteladanan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan di mana saja.”
Melalui kegiatan tersebut, SDN Sukorejo 1 Ngasem mendorong semakin kuatnya sinergi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan anak diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga mampu membentuk pribadi yang santun, bertanggung jawab, peduli dan memiliki karakter kuat.
Sebab, sebelum anak belajar menjadi pribadi yang baik dari sebuah nasihat, mereka terlebih dahulu belajar menjadi pribadi yang baik dari teladan yang mereka lihat setiap hari.
Dan dari halaman sekolah itu, pesan sederhana namun mendalam kembali ditegaskan: anak mungkin lupa dengan banyak nasihat, tetapi mereka akan mengingat dan meniru apa yang setiap hari mereka lihat dari orang-orang terdekatnya.(Dk,Biro Kediri)
Editor: Redaksi Wartajatim.id












