KEDIRI KOTA,Wartajatim.id – Membangun keamanan dan ketertiban masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dekat, komunikasi yang terbuka, serta kepedulian bersama untuk menanamkan kesadaran menjaga keamanan sejak dini, terutama di lingkungan pendidikan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari langkah Polsek Pesantren, Polres Kediri Kota, dalam memperkuat kemitraan dengan masyarakat melalui program Quick Wins Jumat Keliling (Jumling). Kali ini, Kapolsek Pesantren Kompol Siswandi, S.H., menyambangi Masjid SMAN 3 Kota Kediri, Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 11.30 WIB itu tidak sekadar menjadi agenda ibadah salat Jumat bersama. Lebih dari itu, momentum tersebut dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi, penyampaian pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus membangun komunikasi langsung antara kepolisian dengan kalangan pendidikan.
Kehadiran polisi di lingkungan sekolah menjadi salah satu bentuk pendekatan preventif dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif. Melalui komunikasi secara langsung, para pelajar diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga perilaku, menghindari pelanggaran hukum, serta memiliki kesadaran untuk ikut berperan dalam menjaga lingkungan sekitarnya.
Kedatangan Kompol Siswandi bersama para kanit dan kasi Polsek Pesantren disambut hangat oleh pihak sekolah, pengurus takmir masjid, dewan guru, serta para siswa SMAN 3 Kota Kediri. Turut hadir Bhabinkamtibmas Kelurahan Bangsal, Aipda Bagus Candra, S.H.
Dalam kesempatan tersebut, Kompol Siswandi menyampaikan sejumlah pesan penting yang menyentuh berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Mulai dari tantangan penggunaan media sosial, bahaya judi online, potensi tawuran antarpelajar, pelanggaran lalu lintas, hingga ancaman penyalahgunaan narkoba dan minuman keras.
Menurutnya, pembinaan generasi muda tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga dan sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk kepolisian.
Perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk memperoleh informasi, mengembangkan kreativitas, dan memperluas pengetahuan. Namun, kemudahan akses tersebut juga menghadirkan tantangan apabila tidak diimbangi dengan kedewasaan dalam menggunakannya.
Media sosial dapat menjadi sarana positif untuk menunjang pendidikan. Sebaliknya, penyalahgunaan teknologi dapat menyeret penggunanya pada penyebaran informasi bohong, ujaran kebencian, perundungan digital, hingga praktik judi online.
Karena itu, Kompol Siswandi mengingatkan para siswa agar tidak mudah percaya maupun ikut menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
“Jangan mudah terprovokasi oleh berita hoaks, ujaran kebencian, maupun judi online. Adik-adik harus lebih cerdas dalam menggunakan media sosial. Sekarang dunia seolah berada dalam genggaman melalui telepon genggam. Karena itu, gunakanlah untuk hal-hal yang positif, menambah wawasan, belajar, dan meraih cita-cita,” ujarnya.
Selain kecakapan digital, ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi dalam membentuk pribadi yang bertanggung jawab.
“Sepintar apa pun seseorang, apabila tidak memiliki akhlak dan rasa hormat kepada orang lain, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Hormati kedua orang tua, hargai guru, dan jaga sikap kepada siapa pun. Jadilah generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki tanggung jawab terhadap masa depan,” imbuhnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur melalui nilai akademik, tetapi juga melalui sikap, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menghormati sesama.
Persoalan kenakalan remaja juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Tawuran antarpelajar maupun keterlibatan dalam kelompok geng motor merupakan perilaku yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, membahayakan keselamatan, serta membawa konsekuensi hukum.
Kapolsek Pesantren meminta para siswa agar lebih selektif dalam memilih pergaulan dan tidak mudah terbawa ajakan yang mengarah pada tindakan negatif.
Menurutnya, masa sekolah merupakan periode penting untuk mempersiapkan masa depan. Kesempatan menuntut ilmu seharusnya dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi, membangun prestasi, dan membentuk karakter yang baik.
“Jangan sampai masa depan adik-adik hancur hanya karena tawuran atau ikut-ikutan geng motor. Tawuran tidak memberikan kebanggaan, justru bisa merugikan diri sendiri, keluarga, dan nama baik sekolah. Fokuslah belajar, tingkatkan prestasi, dan kejarlah cita-cita setinggi mungkin,” tegasnya.
Ia juga mengajak para pelajar untuk membangun kebiasaan positif, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta tidak menunda melakukan kebaikan.
“Jangan menunda-nunda untuk berbuat baik. Lakukan segala sesuatu dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Kita semua tidak pernah mengetahui sampai kapan usia kita. Karena itu, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan hal yang bermanfaat,” pesannya.
Selain pembinaan karakter dan pencegahan kenakalan remaja, edukasi keselamatan berlalu lintas turut menjadi materi penting yang disampaikan Kompol Siswandi.
Terlebih dalam momentum pelaksanaan Operasi Patuh Semeru 2026, kesadaran untuk mematuhi peraturan lalu lintas perlu terus ditanamkan kepada masyarakat, termasuk kalangan pelajar.
Penggunaan kendaraan bermotor tanpa memenuhi persyaratan, tidak menggunakan helm berstandar SNI, serta penggunaan knalpot yang tidak sesuai ketentuan merupakan hal-hal yang menjadi perhatian dalam edukasi tersebut.
Kompol Siswandi mengingatkan bahwa keselamatan di jalan raya bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap aturan, melainkan juga menyangkut perlindungan terhadap diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.
“Adik-adik yang belum memiliki SIM jangan membawa sepeda motor sendiri ke sekolah. Jangan mengabaikan keselamatan hanya karena ingin terlihat keren. Gunakan helm SNI, patuhi aturan lalu lintas, dan jangan menggunakan knalpot brong. Keselamatan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren,” imbaunya.
Edukasi ini diharapkan mampu membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia sekolah sehingga para pelajar tidak hanya memahami aturan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ancaman penyalahgunaan narkoba dan minuman keras juga tidak luput dari perhatian Kapolsek Pesantren. Ia mengingatkan bahwa lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda, bukan tempat berkembangnya perilaku yang dapat merusak masa depan.
Para siswa diminta memiliki keberanian untuk menolak segala bentuk ajakan menggunakan narkoba maupun minuman keras. Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga diperlukan agar potensi peredaran barang terlarang dapat diketahui dan dilaporkan kepada pihak berwenang.
“Jangan pernah mencoba narkoba dan minuman keras. Jangan sampai hanya karena rasa ingin tahu atau ajakan teman, masa depan yang sudah kalian impikan justru hancur. Jika mengetahui adanya dugaan peredaran narkoba di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, segera sampaikan kepada pihak sekolah atau kepolisian agar dapat ditindaklanjuti,” tegasnya.
Ia menilai bahwa masa depan generasi muda harus dijaga melalui lingkungan pergaulan yang sehat, pendidikan yang baik, serta dukungan keluarga dan masyarakat.
Upaya pencegahan tersebut membutuhkan sinergi berkelanjutan agar para pelajar memiliki pemahaman mengenai risiko penyalahgunaan narkoba sekaligus keberanian untuk menghindarinya.
Lebih jauh, kegiatan Jumat Keliling menjadi gambaran pendekatan kepolisian yang mengedepankan komunikasi dan kemitraan dengan masyarakat.
Kehadiran Kapolsek Pesantren di lingkungan SMAN 3 Kota Kediri menunjukkan bahwa ruang pengabdian kepolisian tidak hanya berada di jalan raya maupun ketika terjadi gangguan keamanan. Lingkungan pendidikan dan tempat ibadah juga menjadi ruang penting untuk membangun kedekatan, menyampaikan edukasi, serta memperkuat kepercayaan masyarakat kepada Polri.
Melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat, kepolisian mendorong keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pihak sekolah, guru, orang tua, hingga para pelajar untuk mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib.
“Polisi tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Kami membutuhkan dukungan serta kerja sama dari masyarakat, termasuk para guru, orang tua, dan seluruh pelajar. Melalui semangat Polisi Bersama Masyarakat, mari kita saling menjaga, saling mengingatkan, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman serta nyaman,” ujarnya.
Kompol Siswandi juga menegaskan bahwa kepolisian harus mampu menjadi mitra masyarakat yang terbuka terhadap komunikasi dan pengaduan. Dengan demikian, berbagai persoalan yang berpotensi mengganggu keamanan dapat diketahui lebih awal dan ditangani sesuai ketentuan.
“Kami dari Polsek Pesantren akan selalu berupaya hadir untuk melindungi masyarakat dan menjadi sahabat bagi para pelajar. Jangan takut untuk berkomunikasi dengan polisi apabila membutuhkan bantuan atau mengetahui adanya gangguan kamtibmas. Kepolisian hadir untuk memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat,” imbuhnya.
Menutup arahannya, Kompol Siswandi kembali mengingatkan bahwa para pelajar merupakan bagian penting dari masa depan bangsa. Mereka diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga memiliki keimanan, integritas, kedisiplinan, serta kepedulian sosial.
“Adik-adik adalah generasi penerus bangsa. Masa depan Kediri dan Indonesia membutuhkan generasi yang tangguh, cerdas, disiplin, dan berakhlak mulia. Jangan pernah takut untuk bermimpi dan berusaha meraih cita-cita. Apa yang kita lakukan dengan niat baik dan keikhlasan semoga menjadi amal ibadah serta membawa manfaat bagi sesama,” pungkasnya.
Kegiatan Jumat Keliling di Masjid SMAN 3 Kota Kediri tersebut berlangsung lancar, tertib, aman, dan kondusif.
Melalui kegiatan ini, Polsek Pesantren berupaya memperkuat hubungan kemitraan antara kepolisian dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat. Pendekatan melalui silaturahmi dan edukasi diharapkan dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban.
Sebab, menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif bukan hanya tugas aparat kepolisian. Dibutuhkan kepedulian dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat agar potensi gangguan keamanan dapat dicegah sejak dini.
Semangat Polisi Bersama Masyarakat menjadi pesan utama dari kegiatan tersebut: bahwa kehadiran polisi bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk mendengar, mengayomi, memberikan edukasi, dan membangun kepercayaan.
Dari lingkungan sekolah, pesan tentang kedisiplinan dan kepedulian ditanamkan. Dari tempat ibadah, silaturahmi diperkuat. Dan dari kebersamaan antara polisi dengan masyarakat, diharapkan lahir lingkungan yang lebih aman, harmonis, serta generasi muda yang siap membawa masa depan Kediri ke arah yang lebih baik.(Dk)












