KEDIRI KOTA – Wartajatim.id || Komitmen dan ketegasan jajaran Satlantas Polres Kediri Kota kini tengah diuji dalam membongkar sengkarut kecelakaan maut di Jalan KH Ahmad Dahlan. Di tengah suasana duka yang masih pekat menyelimuti kediaman almarhumah Fulan Zuleyka (19), Polri langsung bergerak cepat melakukan investigasi menyeluruh guna memberikan keadilan bagi korban dan menanti titik terang yang sesungguhnya.
Isak tangis belum juga reda di sebuah rumah sederhana di Dusun Sendang, Desa Sendang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Pihak keluarga masih terpukul melepas kepergian Fulan, mahasiswi Universitas Islam Syekh Wasil Kediri yang tewas mengenaskan dalam kecelakaan beruntun pada Minggu (5/7/2026) malam lalu.
Merespons tragedi memilukan ini, jajaran Satlantas Polres Kediri Kota menunjukkan empati mendalam. Pada Rabu (8/7/2026), Kasat Lantas Polres Kediri Kota AKP Tutud Yudho Prastyawan, S.H., M.H., didampingi KBO Satlantas Iptu Murnianto dan para Kanit, datang bersilaturahmi langsung ke rumah duka. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas kedinasan, melainkan wujud rasa kemanusiaan sekaligus menguatkan orang tua korban, Welas Hari Widodo dan Lilik Suryani.
Di hadapan orang tua almarhumah, Korps Sabuk Putih ini menegaskan komitmen mereka: proses hukum akan ditangani secara profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu, meskipun melibatkan kendaraan mewah.
Namun, di balik balutan empati tersebut, kasus kecelakaan beruntun yang melibatkan empat kendaraan ini dinilai menyimpan banyak kejanggalan. Publik pun mulai mencium aroma misteri yang kuat setelah identitas pengemudi dan kondisi kendaraan mewah Hyundai Palisade putih tersebut terungkap:
Siapa Sebenarnya DWS? Pengemudi kendaraan bongsor tersebut ternyata merupakan anak di bawah umur berinisial DWS (16), seorang pelajar asal Kabupaten Nganjuk. Bagaimana bisa seorang remaja di bawah umur dengan bebas mengemudikan SUV mewah lintas kabupaten di malam hari hingga memicu kecelakaan fatal?
Misteri Plat Nomor Gantung (Palsu) Hal yang paling menyita perhatian adalah temuan manipulasi identitas kendaraan. Saat kejadian, mobil tersebut nekat menggunakan plat nomor AG 150. Namun, setelah ditelusuri sistem, nomor registrasi aslinya adalah AG 55 SIS.
”Saat kejadian yang bersangkutan menggunakan plat nomor gantung AG 150. Hal tersebut sudah kami pastikan berdasarkan hasil pemeriksaan kendaraan beserta dokumen yang kami miliki,” ungkap Kanit Gakkum Satlantas Polres Kediri Kota, Ipda Andi Anang Dwi Fauzi Sulaiman.
Mengapa mobil mewah tersebut sengaja disamarkan identitasnya saat mengaspal di jalan raya? Apakah ada motif tertentu atau ada “kekuatan” lain di balik kepemilikan mobil tersebut?
Hasil tes urine memang menyatakan DWS negatif dari narkotika maupun zat terlarang. Kepada penyidik, remaja tersebut berdalih bahwa ia hanya “kurang berkonsentrasi” hingga menabrak motor Honda Scoopy yang dikendarai korban dari belakang, sebelum akhirnya hilang kendali dan menghantam Toyota Avanza serta Isuzu Panther dari jalur berlawanan.
Namun, benarkah murni hanya karena kurang konsentrasi? Publik berspekulasi mengenai kecepatan riil kendaraan saat benturan terjadi, mengingat efek domino kecelakaan yang begitu dahsyat hingga merenggut nyawa manusia.
Saat ini, status penanganan kasus masih berada di tahap pemeriksaan intensif. Polisi berjanji kasus ini akan segera dinaikkan dari penyelidikan ke tahap penyidikan setelah dilakukan gelar perkara dalam waktu dekat.
Masyarakat kini terus mengawal ketat perkembangan kasus ini. Apakah hasil gelar perkara nanti akan mengungkap fakta mengejutkan yang baru? Akankah misteri penggunaan plat palsu tersebut membuka tabir lain yang lebih besar? Di tengah desakan publik yang menuntut transparansi, keluarga Fulan kini hanya bisa terpaku dalam duka—menunggu sebuah titik terang keadilan di tengah waktu mereka yang seolah telah terhenti selamanya.(Dk)
Editor: Redaksi












