Terlambat hingga 123 Menit! Gogosan Tanah di Jember Ganggu Perjalanan KA Logawa dan Sri Tanjung

Terlambat hingga 123 Menit! Gogosan Tanah di Jember Ganggu Perjalanan KA Logawa dan Sri Tanjung

MADIUN, Wartajatim.id – Perjalanan kereta api yang melintasi wilayah operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun terganggu akibat gogosan tanah yang dipicu luapan air di wilayah Kabupaten Jember, Senin (2/11/2026). Dampaknya, dua kereta api jarak jauh, yakni KA Logawa dan KA Sri Tanjung, mengalami keterlambatan hingga lebih dari dua jam.

Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasional Perjalanan Kereta Api (Pusdalopka) pukul 09.32 WIB, KA Logawa tercatat mengalami keterlambatan paling lama, yakni mencapai 123 menit. Sementara KA Sri Tanjung mengalami keterlambatan 58 menit.

Gangguan prasarana tersebut terjadi di Km 10+0/1, tepatnya pada petak jalan antara Stasiun Ledokombo (LDO) dan Stasiun Sempolan (SPL), yang masuk wilayah kerja KAI Daop 9 Jember.

Gogosan tanah akibat luapan air tersebut mengharuskan petugas melakukan penanganan dan pengamanan jalur sebelum perjalanan kereta api dapat kembali melintas. Kondisi ini turut berdampak pada kelancaran perjalanan kereta api yang menuju maupun melintasi wilayah Daop 7 Madiun.

Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan Pusdalopka serta jajaran terkait di Daop 9 Jember untuk memantau perkembangan penanganan gangguan prasarana tersebut secara real-time.

Menurutnya, keselamatan perjalanan menjadi pertimbangan utama dalam setiap tahapan penanganan, termasuk sebelum jalur dinyatakan dapat dilalui kembali.

“Keselamatan perjalanan kereta api adalah prioritas mutlak kami. Seluruh petugas di lapangan saat ini fokus melakukan pengamanan dan normalisasi jalur secara teliti sebelum dapat dilalui kembali dengan aman. Dan pada pukul 10.07 lokasi sudah dapat dilewati dengan batas kecepatan 5 kilometer per jam,” ujar Tohari,Senin(2/11/2026).

Berdasarkan data pemantauan Pusdalopka pukul 09.32 WIB, berikut dua perjalanan kereta api yang terdampak gangguan prasarana tersebut.

Pertama, KA Logawa dengan relasi Ketapang (Banyuwangi)–Madiun–Purwokerto. Kereta tersebut terpantau berada di Stasiun Kalibaru dengan keterlambatan mencapai 123 menit. Berdasarkan estimasi saat pemantauan, KA Logawa dijadwalkan tiba di Stasiun Madiun pukul 17.52 WIB.

Kedua, KA Sri Tanjung dengan relasi Ketapang (Banyuwangi)–Madiun–Lempuyangan. Kereta ini terpantau berada di Stasiun Glenmore dengan keterlambatan 58 menit, dengan estimasi kedatangan di Stasiun Madiun pukul 18.47 WIB.

Keterlambatan tersebut tentu berdampak terhadap waktu perjalanan pelanggan, khususnya penumpang yang memiliki agenda lanjutan setibanya di stasiun tujuan.

Meski demikian, KAI memastikan bahwa proses pemulihan operasional tetap dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan. Jalur yang mulai dapat dilalui pada pukul 10.07 WIB masih diberlakukan pembatasan kecepatan maksimal 5 kilometer per jam sebagai langkah kehati-hatian.

Tidak hanya fokus pada penanganan gangguan operasional, KAI Daop 7 Madiun juga menyiapkan langkah pemulihan pelayanan atau service recovery bagi pelanggan yang terdampak keterlambatan.

Langkah tersebut diberikan sesuai ketentuan yang berlaku sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan perusahaan terhadap pelanggan yang mengalami ketidaknyamanan akibat gangguan prasarana.

KAI juga memberikan kesempatan kepada pelanggan yang memutuskan membatalkan perjalanan. Sesuai ketentuan yang disampaikan perusahaan, bea tiket akan dikembalikan sebesar 100 persen.

Kebijakan ini menjadi salah satu bentuk komitmen KAI dalam memberikan kepastian pelayanan sekaligus memperhatikan hak pelanggan ketika terjadi gangguan perjalanan kereta api.

Di tengah proses pemulihan operasional, KAI Daop 7 Madiun mengimbau pelanggan untuk terus memantau perkembangan informasi perjalanan kereta api, terutama bagi penumpang yang memiliki jadwal keberangkatan maupun kedatangan pada hari tersebut.

Informasi terkini dapat diperoleh melalui petugas layanan di stasiun maupun Contact Center KAI 121.

Tohari menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas keterlambatan dan ketidaknyamanan yang terjadi akibat gangguan prasarana tersebut.

KAI Daop 7 Madiun menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan jajaran terkait guna mendukung pemulihan kelancaran perjalanan kereta api, tanpa mengesampingkan standar keselamatan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa faktor alam, termasuk luapan air yang dapat memicu gogosan tanah di sekitar jalur rel, berpotensi memengaruhi kelancaran transportasi kereta api.

Di tengah upaya pemulihan tersebut, satu hal tetap menjadi prioritas utama: memastikan setiap perjalanan kereta api berlangsung aman hingga pelanggan tiba di stasiun tujuan.(Dk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *