Jauh dari Orang Tua, Uang Saku Harus Diatur! Begini Suka Duka Mahasiswa Baru UNESA Jadi Anak Kos

Jauh dari Orang Tua, Uang Saku Harus Diatur! Begini Suka Duka Mahasiswa Baru UNESA Jadi Anak Kos

SURABAYA,Wartajatim.id – Mengejar cita-cita di bangku kuliah ternyata bukan hanya tentang menghadiri perkuliahan, menyelesaikan tugas, dan meraih gelar sarjana. Bagi mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang merantau, ada perjuangan lain yang harus dijalani setiap hari: belajar hidup mandiri, mengatur uang saku, mengurus kebutuhan sendiri, hingga menahan rindu kepada keluarga.

Jauh dari rumah membuat berbagai kebiasaan sederhana berubah menjadi tanggung jawab pribadi. Mencuci pakaian, memenuhi kebutuhan makan, menjaga kebersihan tempat tinggal, dan membagi waktu antara kuliah dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani.

Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut mampu mengelola pengeluaran agar uang saku dapat memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Belum lagi rasa rindu terhadap keluarga yang terkadang muncul ketika tubuh lelah setelah mengikuti perkuliahan atau saat menghadapi persoalan.

Namun, kehidupan anak kos tidak melulu tentang kesulitan. Lingkungan baru membuka kesempatan untuk mendapatkan teman, bertukar pengalaman, belajar bersama, dan membangun kemandirian.

Pengalaman tersebut dirasakan Trias, Yohana, dan Liling, tiga mahasiswa baru UNESA dari daerah berbeda. Kisah mereka memperlihatkan bahwa merantau untuk menuntut ilmu bukan sekadar berpindah tempat tinggal, melainkan juga menjalani proses pendewasaan.

Trias, mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) UNESA asal Lamongan, mengaku kehidupan sebagai anak kos memberinya pengalaman baru dalam menjalani keseharian.

Meski berasal dari daerah yang relatif dekat dengan Surabaya, tinggal terpisah dari keluarga tetap mengharuskannya beradaptasi. Pekerjaan yang sebelumnya dapat dibantu orang tua kini harus dikerjakan sendiri, mulai dari mencuci pakaian hingga mengatur kebutuhan pribadi.

“Awalnya masih terasa canggung karena biasanya kalau di rumah ada orang tua yang membantu. Sekarang harus melakukan semuanya sendiri, mulai dari mencuci baju sampai mengatur uang bulanan. Tapi dari situ saya belajar untuk lebih bertanggung jawab,” ujar Trias, Selasa (20/10/2026).

Selain mengurus kebutuhan sehari-hari, Trias juga harus belajar mengelola keuangan. Pengeluaran untuk makan, transportasi, keperluan kuliah, dan kebutuhan pribadi perlu diperhitungkan agar tidak mengganggu kebutuhan lainnya.

Bagi mahasiswa yang baru pertama kali tinggal jauh dari keluarga, mengatur uang saku menjadi keterampilan penting. Mereka perlu belajar menentukan prioritas, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempertimbangkan pengeluaran sebelum menggunakan uang yang tersedia.

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa hidup mandiri tidak cukup hanya dengan mampu mengurus diri sendiri. Kedisiplinan dalam mengelola keuangan dan keberanian bertanggung jawab atas keputusan sehari-hari juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Berbeda dengan Trias, Yohana, mahasiswa baru Program Studi PPKn UNESA asal Medan, menghadapi tantangan berupa jarak yang jauh dari keluarga.

Berada di lingkungan baru mengharuskannya membiasakan diri dengan rutinitas yang berbeda. Ketika lelah setelah kuliah atau menghadapi masalah, keluarga yang biasanya menjadi tempat bercerita tidak dapat dijumpai secara langsung.

“Yang paling terasa itu kangen keluarga, apalagi kalau sedang capek kuliah atau ada masalah. Biasanya kalau di rumah bisa langsung cerita sama keluarga, tetapi sekarang harus belajar menyelesaikan masalah sendiri. Walaupun begitu, saya senang karena bisa bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah,” ungkap Yohana.

Kerinduan terhadap rumah menjadi salah satu pengalaman emosional yang harus dihadapi mahasiswa perantau. Komunikasi melalui telepon atau panggilan video menjadi cara untuk menjaga kedekatan dengan keluarga meskipun terpisah jarak.

Di tengah proses adaptasi tersebut, kehadiran teman-teman baru juga memberi warna tersendiri. Bertemu mahasiswa dari berbagai daerah membuka kesempatan untuk saling mengenal, berbagi cerita, dan membangun hubungan pertemanan.

Pengalaman Yohana menunjukkan bahwa merantau bukan berarti harus menghadapi setiap persoalan seorang diri. Menjaga komunikasi dengan keluarga dan membangun pertemanan yang positif dapat membantu mahasiswa menjalani masa penyesuaian dengan lebih baik.

Sementara itu, Liling, mahasiswa baru Program Studi Teknik Sipil UNESA asal Pasuruan, melihat kehidupan anak kos memiliki sisi menyenangkan di balik berbagai tantangannya.

Baginya, tinggal jauh dari keluarga memberikan kesempatan untuk memperluas pergaulan dan belajar membangun kebersamaan. Teman-teman baru dapat menjadi rekan berdiskusi, belajar bersama, hingga saling mengingatkan dalam menjalani aktivitas perkuliahan.

“Senangnya bisa punya teman baru dan belajar hidup mandiri. Kalau ada tugas kuliah yang sulit, kami bisa berdiskusi bersama. Kadang juga saling mengingatkan jadwal kuliah. Jadi, meskipun tinggal jauh dari keluarga, ada teman yang bisa membantu ketika mengalami kesulitan,” ujar Liling.

Dukungan teman menjadi salah satu hal yang dapat membuat kehidupan di perantauan terasa lebih ringan. Melalui interaksi sehari-hari, mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertukar pengalaman dan membantu satu sama lain dalam menghadapi tantangan akademik.

Meski demikian, kehidupan anak kos tetap membutuhkan kedisiplinan. Mahasiswa perlu membagi waktu untuk mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, memenuhi kebutuhan pribadi, dan beristirahat.

Pengelolaan keuangan juga tidak boleh diabaikan. Tanpa perencanaan yang baik, pengeluaran sehari-hari berpotensi mengganggu pemenuhan kebutuhan lainnya.

Karena itu, kemampuan menentukan prioritas, mengatur waktu, dan membangun kebiasaan hidup teratur menjadi bekal penting bagi mahasiswa selama menjalani kehidupan di perantauan.

Kisah Trias, Yohana, dan Liling menggambarkan sisi berbeda kehidupan mahasiswa baru yang tinggal jauh dari keluarga. Ada yang belajar mengatur uang saku, ada yang berusaha menghadapi kerinduan terhadap rumah, dan ada pula yang menemukan dukungan melalui pertemanan.

Ketiganya menunjukkan bahwa kehidupan anak kos tidak hanya berkaitan dengan kebebasan menjalani kehidupan sendiri. Ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, kebiasaan yang perlu dibangun, serta keputusan sehari-hari yang menuntut kedewasaan.

Mahasiswa juga perlu menjaga keseimbangan antara kegiatan akademik dan kebutuhan pribadi. Menjaga pola makan, mencukupi waktu istirahat, serta mempertahankan komunikasi dengan keluarga merupakan bagian penting agar aktivitas perkuliahan dapat dijalani dengan baik.

Ketika menghadapi kesulitan, mahasiswa tidak harus memendamnya sendirian. Keluarga, teman tepercaya, dan pihak kampus yang relevan dapat menjadi sumber dukungan sesuai kebutuhan.

Pengalaman merantau juga dapat menumbuhkan pemahaman tentang arti perjuangan orang tua dalam mendukung pendidikan anak. Saat harus mengatur kebutuhan sendiri, mahasiswa memiliki kesempatan untuk lebih menghargai uang, waktu, dan dukungan yang selama ini diterima.

Meski setiap mahasiswa memiliki pengalaman dan proses adaptasi yang berbeda, kehidupan di perantauan memberikan ruang untuk belajar menjadi lebih disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.

Bagi mahasiswa baru UNESA yang merantau, kamar kos bukan sekadar tempat untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas kampus. Di tempat itulah mereka belajar mengurus kebutuhan sendiri, mengelola keterbatasan, dan membangun kebiasaan yang akan berguna dalam kehidupan mendatang.

Ada uang saku yang harus diperhitungkan, tugas kuliah yang perlu diselesaikan, serta kerinduan terhadap keluarga yang harus dikelola. Namun, ada pula teman-teman baru, pengalaman berharga, dan kesempatan untuk mengenali kemampuan diri.

Suka duka kehidupan anak kos menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa dalam mengejar pendidikan tinggi. Proses tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

Pada akhirnya, merantau bukan sekadar keberanian meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu. Perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan untuk belajar berdiri di atas kemampuan sendiri, memahami arti tanggung jawab, dan menghargai dukungan keluarga.

Sebab, di balik perjuangan meraih gelar sarjana, ada proses panjang untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan siap menghadapi masa depan.(Dhiarra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *